Sidarta Sebut Bangka Barat Tidak Pernah Masuk Zona Merah

Muntok — Angka penularan Covid – 19 di Bangka Barat cenderung menurun, bahkan angka kesembuhan dari 59 kasus sebanyak 56 orang dan pasien yang diisolasi tinggal dua orang. Terkait hal tersebut, Sekretaris GTPPC – 19 Bangka Barat, Sidarta Gautama mengatakan, Bumi Sejiran Setason memang tidak pernah masuk kategori zona merah.

Menurut dia, Bangka Barat selama ini tetap masuk kriteria zona hijau, walaupun terdapat kasus penularan. Sebab, berapa pun angka pasien positif, masih bisa tertangani, termasuk dari segi pendanaan.

” Kita itu sebenarnya hijau, selama ini kita hijau, karena untuk kategori merah itu kan kriterianya banyak, termasuk salah satunya adanya transmisi lokal, terus secara pendanaan kita tidak tertangani, jumlah yang positif itu dari hari ke hari selalu bertambah kecenderungannya, itu baru disebut zona merah,” ujar Sidarta kepada portaldutaradio.com, Rabu ( 18/11/2020 ) pagi di Warung Kopi Bujang, Muntok.

Dia menegaskan, selama ini kasus pandemi Covid – 19 di Bangka Barat tetap dapat diatasi dengan baik. Pendanaannya pun tidak menemui kesulitan. Maka itu kata dia, Bangka Barat tidak dapat dikategorikan zona merah.

” Kalau kita dari kemarin – kemarin tetap hijau, seberapa pun kasus kita kan tidak ada yang tidak teratasi kan? Semua teratasi,” imbuhnya.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid – 19 ( GTPPC – 19 ) selanjutnya akan mengambil langkah – langkah agar penularan tidak terjadi lagi. Sidarta menyebut, potensi penularan terbesar berasal dari orang dalam perjalanan, itu yang harus diwaspadai.

” Karena kalau kondisi kita zero seperti saat ini berarti posisi kota Muntok atau Bangka Barat ini sebenarnya tidak ada transmisi lokal ya, saya tidak mengatakan tidak ada virus, tapi tidak ada transmisi lokal, tapi orang dalam perjalanan, ini tetap harus diwaspadai,” bebernya.

Untuk itu kata dia, pihaknya bersama Otoritas Pelabuhan dan Satgas Angla bahu membahu menjaga pintu masuk Pelabuhan Tanjung Kalian yang merupakan peluang masuknya virus ke Bangka dan Bangka Barat.

” Itu potensi yang terbesar saat ini dimana – mana itu yang terbesar dan kita masih beruntung satu – satunya yang masih memperhatikan pintu masuk,” tambahnya.

Sidarta tidak menampik kasus klaster PT. BPL disebut kecolongan, sebab terdapat dua pintu masuk ke Pulau Bangka, yaitu Bandara Depati Amir Pangkalpinang dan Pelabuhan Tanjung Kalian, Muntok. Namun ia memastikan, kecolongan itu bukan berasal dari pelabuhan.

” Karena pintu masuk kita ini kan ada dua, ada yang dari sini dan dari bandara. Kalau dari bandara tentu otoritas bandara, dan kita tidak tergabung di dalamnya secara langsung. ( Kecolongan ) bisa jadi ya, karena ada dua pintu masuk kan, tapi kalau dari sini kita pastikan tidak ada masalah, bukan dari sini,” tutupnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: