Samsir akan Panggil Disparbud Bahas Hilangnya Lomba Lagu Melayu dari HUT kota Muntok

Muntok – Dihilangkannya lomba lagu melayu dari daftar kegiatan Festival Jiran Nusantara HUT kota Muntok ke – 285 tahun 2019 menuai banyak kritikan dari para pelaku seni kota Muntok. Para seniman, pengamat kebudayaan, apalagi pegiat musik melayu, menganggap, arah perayaan hari ulang tahun kota pusaka ini sudah tidak jelas lagi.

Setelah kegiatan inti HUT kota Muntok banyak dicukur, dan tahun ini lomba lagu melayu juga ikut ditiadakan, perwakilan seniman kota Muntok, hari ini, Senin ( 2/9/2019 ) datang menemui Ketua DPRD Bangka Barat, Drs. Samsir untuk berdiskusi mencari jalan keluar.

Najib, salah satu perwakilan seniman Muntok menyampaikan keberatannya. Menurut dia, dalam peringatan HUT Muntok sekarang ini, kegiatan yang mengangkat ciri kota Muntoknya sendiri sudah banyak dihilangkan, diantaranya, lomba betason dan lomba membuat kue tradisional Muntok.

” Ini ditambah lagi lomba lagu melayu dihilangkan juga. Kami merasa keberatan kalau lomba lagu melayu dihilangkan, karena HUT kota Muntok akan hambar bila tidak ada sama sekali ciri melayu sebagai budaya Muntok,” kata Najib, di ruang kerja Ketua DPRD, Senin ( 2/9/2019 ).

Hal senada juga disampaikan pencipta lagu melayu Muntok, Chamcie Abiem. Dia menyebutkan, event hari ulang tahun kota Muntok akan kehilangan ciri khas, bila tidak ada lagi kegiatan yang mengangkat budaya melayu, karena kota Muntok lahir dari budaya melayu.

” Menurut saya, event ini akan sama dengan event – event lain kalau lomba lagu melayu dihilangkan. Bagi saya, event HUT kota Muntok punya pembeda dari event – event lain, salah satu pembeda itu, ya lomba lagu melayu,” sebutnya.

” Sekarang kan lomba betason sudah dihilangkan, lomba membuat kue tradisional Muntok juga sudah hilang, padahal itu salah satu kegiatan penting untuk terus mengangkat cita kota Muntok sebagai Kota Seribu Kue, nah sekarang kalau lomba lagu melayu juga dihilangkan, esensi HUT kota Muntok akan hilang, sudah kehilangan arah jadinya,” sambungnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Bangka Barat, Samsir berjanji akan memanggil dinas terkait, yaitu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan guna membahas masalah ini.

” Besok siang akan kita panggil, kalau bisa kalian juga ikut hadir,” ujar Samsir.

Menurut Samsir, kegiatan – kegiatan yang memang menjadi adat dan tradisi kota Muntok harus dilestarikan, selama tidak tidak menyimpang baik dari segi akidah, akhlak dan etika moral.

” Momen untuk mengembangkan dan melestarikannya itu tadi lah, di event HUT Muntok, HUT Bangka Barat, mungkin kalau pada HUT Babar bisa lebih masuk semua, tapi kalau HUT Muntok kan satu kekhususan, spesial, jadi budaya yang ada harus kita inikan, sebagai bentuk dari upaya pelestarian itu sendiri. Jadi kita berharap ciri khas itu tetap diadakan,” tandas Samsir.

” Dan untuk tahun 2020, untuk pembahasan Nota Keuangan RAPBD 2020, nanti akan kita bicarakan pembahasan anggaran untuk 2020, walaupun saya nanti tidak jadi ketua lagi , tapi di Badan Anggaran akan tetap memprioritaskan program kegiatan – kegiatan yang tadi,” tambah dia. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: