Ratnosoppi Akui Stok Darah di RSUD SS Babar Terbatas, Ini Penyebabnya

Muntok — Pandemi Covid – 19 berpengaruh terhadap persediaan darah di Rumah Sakit Umum Daerah Sejiran Setason ( RSUD SS ) Kabupaten Bangka Barat. Kabid Pelayanan RSUD SS, dr. Ratnosoppi mengakui, stok darah sekarang ini memang terbatas.

Saat ini kata dia, di Unit Tranfusi Darah ( UTD ) RSUD Sejiran Setason hanya tersedia 18 kantong darah yang berasal dari pendonor massal.

” Sementara, stok darah yang ada di UTD RSUD Sejiran Setason bersumber dari pendonor massal yaitu golongan darah B sebanyak 5 kantong, AB sebanyak 6 kantong dan darah O sebanyak 7 kantong. Untuk darah A masih kosong,” jelas Ratnosoppi di ruang kerjanya, Selasa ( 17/11/2020 ).

Penyebab minimnya stok darah selama pandemi menurut Ratno, salah satunya adalah rasa kekhawatiran para pendonor tertular Covid apabila melakukan aktivitas donor darah. Namun sejauh ini penularan itu tidak terjadi.

” Sampai dengan sekarang stigma itu tidak ada di temui, karena di rumah sakit ini bentuknya UTD RS, jadi misal ada stok kita langsung tranfusi kepada pasien,” katanya.

Dia menambahkan, stok darah yang tersedia di UTD bebas digunakan untuk pasien yang membutuhkan. Namun biasanya pendonor datang ke UTD untuk mendonorkan darah kepada pasien yang ia kenal.

Karena itu, Ratno berharap masyarakat Bangka Barat bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan donor darah. Apalagi di masa pandemi ini dan memasuki musim penghujan, dimana kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD ) sudah mulai muncul. Hal tersebut juga untuk mengantisipasi permintaan darah dari pasien pengidap DBD.

Ratno memastikan keamanan bagi pendonor terjamin sehingga tidak perlu merasa khawatir tertular Covid. Petugas yang ada kata dia telah melakukan Standar Operasional Prosedur ( SOP ) dengan baik.

“Di rumah sakit ini sendiri kami yakini standar prosedur Covid-nya yang kami lakukan baik itu dari calon pendonor maupun petugasnya, jadi bisa dibilang terjamin lah mendonor darah di Rumah Sakit Umum Sejiran Setason,” tukas dia.

Namun ditegaskan Ratno, pihaknya tetap berhati – hati. Bagi pendonor mempunyai gejala demam, riwayat berpergian walaupun sudah harinya dia mendonor secara rutin, maka dipastikan perlu discreening dengan rapid test agar tidak menyebar ke orang lain maupun petugas. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: