Muntok — Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Bangka Barat telah mempersiapkan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara ( KPPS ) sebagai ujung tombak suksesnya penyelenggaraan Pilkada serentak yang akan digelar tanggal 9 Desember mendatang.
Kordiv Sosialisasi Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, KPU Bangka Barat, Yulizar membenarkan proses perekrutan anggota KPPS dilakukan dengan cara lamaran dan interview di Panitia Pemilihan Kecamatan ( PPK ). Namun, ada keluhan dari beberapa anggota KPPS yang ditempatkan di TPS yang tidak sesuai domisilinya, sehingga orang yang bersangkutan merasa asing dengan kelompok maupun lokasinya.
” Sebenarnya itu sebagian kecil ya kalau merasa asing itu karena memang syaratnya itu kalau memang tidak bisa kita temukan SDM untuk di KPPS di tempat itu, bisa ngambil di desa sebelah atau RT sebelah. Tapi pada dasarnya kita tidak, paling satu atau dua orang tidak banyak lah, rata – rata tercukupi,” ujar Yulizar, Selasa ( 1/12/2020 ) pagi di Kantor KPU Bangka Barat, Jalan Jenderal Sudirman, Muntok.
Menurutnya, pada penyelenggaraan kali ini, usia anggota KPPS dibatasi maksimal 50 tahun dan minimal 20 tahun. Dalam satu kelompok yang berisi tujuh orang, termasuk Pam TPS, komposisinya dicampur antara orang lama ( senior ) dan baru.
” Jadi orang – orang lama itu kalau memang usianya maksimal 50 tahun masih bisa kita jadikan sebagai anggota KPPS dan juga anak anak muda yang secara syarat memenuhi syarat 20 tahun,” katanya.
Bila dalam satu kelompok berisi wajah – wajah baru, kata Yulizar sebenarnya tidak menjadi masalah karena ada Bimbingan Teknis ( Bimtek ) yang akan digelar selama tiga hari. PPK juga biasanya akan melihat, bila masih ada anggota KPPS senior atau orang lama yang memenuhi syarat dan cakap maka akan direkrut kembali.
Tapi tegas dia, anggota KPPS memang harus mengikuti Bimtek, apalagi sekarang ini pihak KPU telah menggunakan aplikasi ” Si Rekap ” atau Sistem Rekapitulasi Otomotis yang dioperasikan dengan handphone pintar. Penggunaan aplikasi ini tentunya membutuhkan orang – orang muda yang tidak gagap teknologi.
” Sistem Rekapitulasi Otomatis , Si Rekap ini kan ada anak muda kan mungkin mereka punya hp, tentu lebih kreatif untuk menggunakan teknologi ini. Mungkin juga ada setengah anak muda, ya harapannya bisa menggunakan, tidak gagap teknologi lah penggunaan hp karena Si Rekap itu paling tidak harus dilakukan menggunakan hp,” bebernya.
Ditambahkannya, proses pemungutan suara pada Pilkada kali ini tidak serumit di Pemilu Legislatif dan Pilpres serentak tahun 2019 lalu. Dia optimis KPPS bisa lebih cepat menyelesaikan tugasnya dengan baik.
” Sebenarnya sih tidak sesulit kemarin ya, pertama kan jelas kotaknya kan nggak banyak. Kalau kemarin kan banyak, ini kan nggak banyak cuma satu kotak. Saya pikir tidak serumit kemarin lah lebih gampang lah kalau ini. Tidak sampai subuh sampai sore, jam 3 jam 4 sudah kelar, ” tukasnya. ( SK )






























