Meriahnya Perang Ketupat, Tamu Undangan Terlibat Saling Lempar dengan Warga

BANGKA BARAT — Kecamatan Tempilang kembali menggelar Pesta Adat Perang Ketupat dan sedekah ruwah yang digelar di Pantai Pasir Kuning, Desa Air Lintang, Minggu ( 8/2/2026.

Acara rutin tahunan menyambut bulan suci Ramadhan ini seperti biasa menyedot ribuan pengunjung yang datang melihat secara langsung ritual adat serta bersilaturahmi dengan sanak keluarga.

Acara pembuka perang ketupat diisi dengan pertunjukan adat tradisi Penimbongan dan ritual adat Ngancak Penimbong yang dilakukan tim adat.

Ada juga Tari Serimbang oleh Sanggar Lima’e Purot. Tim adat, sebanyak dua orang ngambin batu taber mengitari penimbong. Mereka menuju pemangku adat untuk melakukan taber kepada para tamu yang hadir.



Selanjutnya ditampilkan Tari Kedidi dan pertarungan dua pesilat dalam tradisi Seramo Adat dari perguruan Mawar Putih.

Sebelum perang ketupat dimulai, doa arwah dan doa selamat dilakukan tim adat. Perang Ketupat Tradisi sebagai acara puncak melibatkan puluhan laki-laki mengenakan baju hitam yang seragam berkumpul di tengah lapangan.

Mereka berebut tumpukan ketupat, yang diletakkan di tengah arena untuk saling melempar satu sama lain layaknya perang.

Perang ketupat juga melibatkan para tamu kehormatan dari kalangan pejabat Pemkab Barat dan Pemprov Babel hingga masyarakat umum yang ikut saling lempar ketupat.

Salah satu pejabat yang terlibat yakni
Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda yang ikut turun langsung ke lapangan.

Wakapolda tampak berbaur dan saling melempar ketupat bersama warga. Suasana mendadak riuh oleh sorakan penonton saat ketupat mulai berterbangan di arena.

Festival Perang Ketupat menjadi agenda wisata andalan di Kabupaten Bangka Barat. Acara ini selalu dilaksanakan setiap bulan ruwah atau Sya’ban, menyambut bulan Ramadhan.

Bupati Bangka Barat Markus yang turut hadir mengatakan, tradisi Perang Ketupat menjadi ritual adat tahunan yang terus dilestarikan oleh masyarakat Tempilang.



Menurut dia ritual ini mengandung makna mendalam sebagai simbol rasa syukur, tolak bala serta ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Markus mengatakan Perang Ketupat telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).

Penetapan itu dilakukan pada tahun 2014 bersamaan dengan Tari Kedidi, disusul Adat Taber Kampung di tahun 2015 serta Tari Serimbang tahun 2019 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

“Adat istiadat sudah turun temurun dilakukan mayarakat Tempilang, memberikan apresiasi telah melestarikan ini. Kita harapkan event ini dapat lebih terkenal lagi di kancah nasional,” kata Markus.

Menurut Markus secara historis, perang ketupat pertama kali dilaksanakan pada era 1800-an di kawasan Benteng Kota Tempilang.

Hingga kini, Perang Ketupat tetap menjadi agenda budaya yang dinanti setiap tahun, sekaligus daya tarik wisata yang memperkenalkan kearifan lokal Tempilang kepada masyarakat luas.

“Ini sebagai daya tarik wisata yang datang ke Bangka Barat. Karena banyak istiadat di Bangka Barat ini, kami sangat mensyukuri dan mendukung, karena ini bentuk dukungan kami dalam membangun, Bangka Barat,” sambung dia.

Di lain pihak Penerus Adat Perang Ketupat, Keman, mengatakan, tradisi perang ketupat bukan sekadar perayaan adat, tetapi juga menjadi momen untuk mengenang sejarah dan warisan para leluhur.

“Makna perang ketupat mengingat sejarah leluhur, kedua kajian dari ketupat itu sendiri, seperti K makanya kehidupan, E itu etika, P prilaku, A agamis, dan T, tradisi. Ini harus tanamkan anak cucu nanti, supaya punya adap dan etika,” terang Keman.

Dia menerangkan, nilai-nilai tersebut penting untuk ditanamkan kepada generasi muda. Selain itu terdapat unsur seni bela diri atau silat sebagai bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga.

Dia berharap kesenian tradisional seperti tari-tarian dapat kembali ditambahkan untuk semakin memeriahkan perayaan, sehingga budaya lokal tetap hidup dan tidak hilang ditelan zaman.

“Supaya jangan hilang kalau bisa dibuat makin meriah, seperti tari tradisonalnya ditambah lagi untuk memeriahkan acara in,” tutup Keman.

Selain Markus hadir pula Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman, Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Barat, Ahmad Patoni, Kapolres Bangka Barat, AKBP Pradana Aditya Nugraha, Sekda Bangka Barat, Muhammad Soleh, Dandim 0431 Bangka Barat Letkol CZI Fadil, Wakapolda Babel Brigjen Pol Murry Mirranda, segenap kepala OPD serta tamu undangan lainnya. ( Adv )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *