BANGKA BARAT — Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Bangka Barat Harpandi dilantik sebagai Direktur Perumdam Tirta Sejiran Setason ( Perumdam TSS ) oleh Bupati Bangka Barat Markus, di OR 1 Setda Bangka Barat di Kecamatan Mentok, Sabtu ( 31/1/2026 ).
Markus dalam sambutannya mengatakan, dirinya melihat selama empat tahun belakangan ini Perumdam TSS mengalami kemunduran, karena keuntungan yang diraih hanya Rp70 juta.
“Saya sampai kaget, sekali saya masuk 70 juta untungnya kurang lebih. Bagi saya, nggak pas kalau hanya untung segitu,” ujar Markus.
“Untungnya tidak signifikan. Besarlah bayar gaji direksi daripada keuntungan. Ini tidak bisa seperti ini. Maka saya minta Pak Harpandi, Pak Harpandi juga sudah menandatangani pakta integritas, tentunya punya tanggung jawab untuk membawa PDAM ini lebih baik lagi,” sambung Markus.
Menurutnya baru lah setelah dirinya menjabat bupati, hanya dalam kurun waktu empat bulan keuntungan Perumdam bisa digenjot ke angka Rp1, 5 miliar.
“Ini artinya manajemen kita profesional. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Kalau besar pasak daripada tiang ya menggerus keuntungan,” cetusnya.
Usai pelantikan, Markus mengatakan kepada wartawan, Harpandi terpilih dari dua kandidat lain yang memiliki latar belakang masing – masing yang sudah tentu berbeda – beda.
Markus tidak mempermasalahkan hal itu karena direktur yang terpilih harus mencapai target kinerja yang sudah ditetapkan kepala daerah sebagai Kuasa Pemilik Modal ( KPM).
Maka Markus memberikan kesempatan kepada Harpandi untuk melakukan tugasnya. Bila yang bersangkutan tidak bisa mencapai target tentu akan dievaluasi.
“Kalau beliau tidak bisa mencapai target ya nanti tentunya akan kita evaluasi kinerjanya. Karena PDAM kita kan lah bagus nih, dalam empat lima bulan ini sudah menunjukkan tren yang sangat baik kan. Nah tentunya ini harus dipertahankan dan ditingkatkan lagi,” sambung dia.
Ditekankan Markus selain keuntungan, kualitas air dan pelayanan kepada pelanggan juga harus ditingkatkan. Salah satu caranya yakni menggunakan sumur bor sebagai sumber air baku.
“Nanti mungkin PDAM juga mulai memikirkan seperti sumur bor tapi skalanya besar, bukan sumur bor biasa. Mungkin seperti itu. Selain itu, ada beberapa kolong, beberapa sumber air yang akan kita ambil, baik di Mentok, Jebus dan Parittiga,” tutup Markus.
Sementara itu Direktur Perumdam TSS Harpandi mengatakan, latar belakangnya sebagai mantan Komisioner KPU dan bukan di bidang air minum tidak menjadi masalah.
“Sebenarnya ini lebih kepada manajerial saja, kalau kemarin itu kita di KPU, kita manajerial kawan-kawan penyelenggara pemilu, sekarang kita sama-sama pelayanan juga, KPU juga melayani pemilih dan partai politik, PDAM juga sama,” katanya.
“Pada intinya tugas utama dari PDAM itu kan melakukan pelayanan sumber air bersih kepada masyarakat yang ada di Bangka Barat,” lanjut dia.
Dia pun sudah memiliki strategi untuk target meraup keuntungan dan peningkatan kualitas air yang selama ini masih keruh kerap menjadi keluhan masyarakat, termasuk meteran yang tidak akurat.
Salah satu yang menjadi perhatiannya terkait masalah NRW, Non-Revenue Water atau Air Tak Berekening (ATR) adalah selisih antara air yang diproduksi (atau dibeli) PDAM dengan volume air yang terjual ke pelanggan. Angka ini menunjukkan kehilangan air, baik fisik (kebocoran) maupun komersial (pencurian/meter macet), yang merugikan pendapatan dan efisiensi operasional PDAM.
“Jadi NRW inilah yang nanti akan kita lakukan evaluasi ataupun perbaikan-perbaikan yang ada di titik-titik merugikan pelanggan PDAM itu sendiri,” tukas Harpandi.
“Yang jelasnya kita ingin investasi kepercayaan dulu kepada masyarakat bahwa bagaimana masyarakat itu percaya kepada PDAM bahwa PDAM itu bukan hanya perusahaan daerah air mandi, tapi perusahaan air minum yang memang secara PH itu layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Barat,” terang dia. ( SK )
4 Tahun Terakhir Perumdam TSS Hanya Untung Rp70 Juta, Ini Harapan Markus kepada Direktur Baru






























