Sejak Dulu Hingga Kini, Pengrusakan Menumbing Tidak Berhenti

Muntok — Seakan tidak pernah berhenti, pengrusakan kawasan Bukit Menumbing telah terjadi sejak dulu hingga saat ini. Hal itu diakui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Bangka Barat, Ridwan.

Menurut Ridwan, pengrusakan hutan akibat penambangan ilegal dan ilegal logging bahkan telah terjadi sebelum Menumbing ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya ( Tahura ) oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2016.

Ridwan mengatakan, dari lahan Tahura Menumbing seluas kurang lebih 3.333, 20 hektare itu, kini sekitar 800 hektare-nya telah menjadi lahan kritis akibat digerogoti penambangan liar serta ilegal logging.

” Penyebabnya ilegal – ilegal dari dulu, cuma perlu diketahui kerusakan itu telah dari dahulu dari sejak Tahura pun kerusakan sudah mulai. Jadi jangan kesannya tahun 2016 kerusakan, artinya bekas – bekas tambang ilegal ini sudah dari dahulu,” tukas Ridwan, Senin ( 11/7 ).

Bahkan kata Ridwan sebelum tahun 2016 pun kerusakan telah terjadi, namun spot atau titik – titiknya tidak dalam satu hamparan. Bila diakumulasikan, menurut dia kerusakan terjadi di enam blok pada lahan seluas 900 hektare, dan itu sudah menjadi lahan kritis.

” Kalau memang kita total kan dari jumlah bloking yang ada enam bloking, ia menyebar di enam bloking, jadi sekitar kurang lebih 900 hektar itu kritis, penyebab kritis ilegal – ilegal, ada yang ilegal mining ada yang ilegal logging. Jadi kerusakan itu sudah dari dulu, sebelum tahun 2016 kerusakan itu sudah dimulai bertahap,” cetus Ridwan.

Sekarang ini pun kata Ridwan penambangan ilegal di Tahura masih terjadi, terutama di area kaki Menumbing. Namun menurutnya kegiatan tersebut tidak separah sebelumnya.

Dikatakan Ridwan untuk mencegah serta mengatasi aktivitas ilegal tersebut pihaknya dari dulu sudah memiliki tim yang terdiri dari Sat Pol PP serta Aparat Penegak Hukum ( APH ) yang selalu berkoordinasi dan turun ke lapangan. Namun para pelaku penambangan lebih pintar dengan beraksi secara kucing – kucingan untuk mengelabui petugas.

” Sering turun bersama – sama, orang berbuat ilegal lebih pinter dari kita, kalau kita tiap hari nggak mungkinlah tiap hari ke lapangan karena terbatas dana, sarpras. Ketika tidak ke lapangan di situlah mereka masuk,” cetus Ridwan. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *