Oktorazsari: Program Pengelolaan Tahura Menumbing Tidak Jelas

Muntok — Wakil Ketua I, DPRD Bangka Barat, H. Oktorazsari ikut mengomentari perihal kerusakan Taman Hutan Raya Menumbing yang selama ini terus terjadi.

Menurutnya, tidak hanya di Bangka Barat, penjarahan hutan juga terjadi di daerah lain di Indonesia. Penyebabnya, himpitan ekonomi membuat masyarakat berani melakukan tindakan pengrusakan.

” Kita mau tidak mau harus memaklumi, di manapun hutan di Indonesia saat ini terus dijarah. Mau hutan adat, hutan produksi, bahkan hutan lindungpun sudah dijarah oleh masyarakat. Penyebabnya cuma satu hal, desakan ekonomi,” ujar Oktorazsari, Senin (11/7/2022).

Namun menurut politisi Partai Gerindra ini, untuk mengatasi hal tersebut Pemerintah Kabupaten Bangka Barat harus melakukan tiga langkah agar aksi pengrusakan bisa dicegah.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat perencanaan dan program yang jelas. Sebab menurut Haji Okto, selama ini Pemda tidak mempunyai program yang jelas untuk pengelolaan Tahura Menumbing.

Menurut dia, dengan program yang jelas, kawasan Tahura Menumbing bisa memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar seperti Hutan Raya Bedugul di Bali, Hutan Raya Bogor, atau Hutan Paramun di Belitung.

” Kita belum lihat program yang jelas terhadap Tahura Menumbing, mau dijadikan seperti apa dan manfaat apa yang diperoleh masyarakat, sehingga masyarakat mau dan ikut serta menjaga kelestariannya,” cetus Okto.

Hal kedua, Pemkab harus melibatkan kelompok – kelompok masyarakat untuk ikut mengelola dan menjaga Tahura Menumbing. Menurut Haji Okto ia belum melihat hal itu dilakukan Pemda.

Dia mencontohkan Hutan Paramun di Belitung yang pengelolaannya melibatkan kelompok masyarakat sehingga manfaatnya bisa dirasakan.

Langkah ketiga, penegakan hukum terhadap pelaku penambangan dan penebangan liar harus jelas agar menimbulkan efek jera bagi para pelaku pengrusakan tersebut.

” Usaha penegakan hukum yang belum tegas. Selama ini yang kita ketahui, setiap penangkapan dan penertiban jarang yang masuk ranah pidana berujung penjara, kebanyakan bersifat pembinaan. Ini tidak menimbulkan efek jera,” tukasnya.

Okto menegaskan, selama hal – hal tersebut belum dilaksanakan, maka Tahura Menumbing akan tetap seperti ini, dan lambat laun semakin kritis dan akan semakin gundul. Menurut dia tinggal menunggu waktu bencana yang akan timbul akibat gundulnya Tahura Menumbing.

” Saat ini kita sudah mulai merasakan awal bencana itu, dimana setiap musim hujan, kota Muntok selalu banjir,” cetus Haji Okto. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *