Isu Seputar Vaksin yang Membuat Masyarakat Ragu Dijawab Tuntas Jubir Covid Babar

Muntok — Vaksinasi Covid-19 menimbulkan berbagai pendapat di kalangan masyarakat. Program yang sedang digulirkan pemerintah ini menuai banyak kabar negatif sehingga memicu keragu – raguan penerima vaksin.

Isu yang beredar pun beragam, namun ada beberapa hal yang mengemuka dan menjadi pertanyaan, diantaranya orang yang sudah divaksin masih tetap dirapid antigen bila hendak berpergian ke luar daerah. Padahal seharusnya hal itu sudah tidak perlu lagi.

Menurut Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Bangka Barat, M. Putra Kusuma, memang ada wacana agar orang yang sudah divaksin tidak harus menjalani rapid antigen lagi. Namun pihaknya belum menerima peraturan secara resmi. Rencananya data akan terkoneksi dengan aplikasi Electronic Health Alert Card ( eHAC ) dari Kantor Kesehatan Pelabuhan ( KKP ).

” Ada wacana memang ke arah sana, jadi yang sudah divaksin tidak perlu test antigen untuk perjalanan. Kami masih menunggu edaran resminya. Nanti terkoneksi dengan eHAC, aplikasi yang dari KKP,” ujar Putra, via WhatsApp, Senin ( 1/3/2021 ).

Selain itu, muncul pula pendapat yang mengatakan, untuk membuat vaksin membutuhkan waktu sedikitnya lima tahun, sehingga vaksin Sinovac dianggap hanya uji coba yang belum tentu akan berhasil.

Padahal menurut Putra, vaksin Covid-19 yang ada sudah melalui tiga tahapan utama uji klinis vaksin. Bahkan pada uji klinis tahap ketiga di Jawa Barat, sebanyak 1.600-an orang sudah divaksin. Hasil efikasi vaksin sebesar 63, 5 persen sudah melebihi standard organisasi kesehatan dunia, World Health Organization ( WHO ).

” Hasilnya efikasi vaksin 63,5 persen sudah melebihi standar WHO untuk efikasi vaksin Covid -19 yang hanya 50 persen,” tukasnya.

Lanjut Putra, efek samping vaksin pun tidak perlu dikhawatirkan, sebab pada umumnya yang dirasakan penerima hanya demam, nyeri, sakit kepala, dan kelelahan. Tanpa diobati pun efek itu bisa hilang sendiri.

” Efek samping ini akan berlangsung selama satu atau dua hari dan hilang tanpa memerlukan obat,” tandasnya.

Sejauh ini kata Putra, berdasarkan laporan SDMK tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi ( KIPI ) yang serius.

” Efek samping yang kami terima dari laporan SDMK tidak ada KIPI yang serius, sangat minimal. Untuk efek samping jangka panjanÄ£ belum diketahui sampai saat ini,” pungkasnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: