Ini Himbauan dr. Hendra Terkait Anak – Anak Tenaga Medis yang Dilarang Masuk Sekolah

Muntok — Kasus pasien terkonfirmasi positif Covid – 19 atas nama Tuan IS ( 47 ), warga Kecamatan Muntok yang meninggal dunia pada Jum’at ( 18/9/2020 ) lalu menyisakan ke khawatiran beberapa dewan sekolah dan para orang tua siswa, yang anak – anaknya belajar dalam satu sekolah dengan anak – anak tenaga kesehatan.

Menurut Juru Bicara GTPPC – 19 Bangka Barat, dr. Hendra, dewan sekolah dan para orang tua siswa tersebut khawatir tenaga kesehatan ada yang terpapar Corona. Pasalnya, IS memang sempat dirawat di Puskesmas Kelapa, RSBT Muntok dan RSUD Sejiran Setason, Bangka Barat sebelum dirujuk ke RSUD Depati Bahrin, Sungailiat, Bangka.

Rasa kekhawatiran itu kata Hendra menyebabkan anak – anak tenaga kesehatan belum dizinkan masuk sekolah dan terpaksa belajar secara daring.

” Jadi anak-anak tenaga medis ini nggak boleh sekolah, kasihan kan. Kecuali kalau orang tuanya itu ada keluhan ada riwayat apa itu pasti kita infokan juga. Jangan sampai terbentuk opini sendiri di masyarakat oh ini tenaga kesehatan ini positif juga,” kata dr. Hendra di ruang kerjanya, Selasa ( 22/9/2020 ) siang.

dr. Hendra menegaskan, sebenarnya masyarakat tidak perlu khawatir, sebab para tenaga kesehatan bekerja dengan aman, selalu memakai Alat Pelindung Diri ( APD ) lengkap dan sudah melakukan pemeriksaan swab dengan hasil negatif.

” Jadi kekhawatiran itu saya rasa tidak perlu karena tenaga kesehatan di sini sudah habis swab, jadi aman lah. Ini kita jelaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan yang pertama, mereka sudah dilengkapi dengan APD. Yang kedua kita juga mengambil antisipasi begitu kita tahu ini positif kita langsung melakukan pemeriksaan swab. Hasilnya sudah keluar negatif semua,” tegas dr. Hendra.

Lebih jauh dia menjelaskan, berdasarkan revisi kelima Pedoman Penanggulangan Covid – 19 dari Kementerian Kesehatan, untuk kontak yang tidak erat dikategorikan sebagai resiko rendah.

Untuk orang – orang beresiko rendah hanya dilakukan satu kali swab. Apalagi jika yang bersangkutan tidak mengalami gejala apa pun, dia sudah dinyatakan sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa.

Terkait rasa kekhawatiran tersebut, dr. Hendra menghimbau agar masyarakat
mengikuti arahan dari GTPPC -19 dan jangan membentuk opini dan argumentasi sendiri. Sebab, virus Corona atau Covid – 19 sangat dinamis dan selalu berubah, sehingga pedoman penanggulangannya pun ikut berubah – ubah.

” Covid ini dinamis, berkembang terus. Makanya saya bilang revisi kelima, sejak awal munculnya Covid ini sudah lima kali direvisi pedoman penanggulangannya. Jadi maksud saya ikuti pedoman yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jangan beropini sendiri harus dua kali swab, padahal penemuan yang baru sudah nggak lagi, jadi harus diikuti,” tukasnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: