BANGKA BARAT — Calon bupati petahana, Sukirman mengatakan selama tiga tahun lebih ia menjabat, angka kemiskinan di Kabupaten Bangka Barat menjadi yang paling rendah se Provinsi Bangka Belitung.
Selanjutnya jika kembali terpilih menjadi bupati di Pilkada 2024 ini, Sukirman mengatakan ia bersama Bong Ming Ming akan mengentaskan kemiskinan dengan cara, menyiapkan lapangan kerja dan bantuan bahan pangan, obat – obatan serta program rumah layak huni dan pekerjaan yang layak untuk masyarakat.
“Kami akan menyiapkan infrastruktur yang cukup untuk menata kehidupan masyarakat tersebut. Saya pikir itu yang perlu kami lakukan. Selama tiga tahun terakhir ini data BPS menunjukkan bahwa di Bangka Barat angka kemiskinannya menurun,” ucap Sukirman pada debat pertama calon bupati dan wakil bupati Pilkada 2024, di Gedung Graha Aparatur Pemda Bangka Barat, di Kecamatan Mentok, Jum’at ( 25/10 ) malam.
Dikatakan calon bupati nomor urut 1 ini, selain itu di Bangka Barat ada sektor pertanian, pertambangan dan UMKM. Untuk pertambangan akan di-support dengan legalitas atau payung hukum yang jelas, sedangkan sektor pertanian akan didukung dengan pupuk subsidi dan bibit unggul.
“Dari sisi perdagangan, UMKM akan kita tingkatkan. Khususnya di Mentok ada Car Free Day, dengan CFD ini setidaknya masyarakat bisa memanfaatkan ruang itu untuk bekerja,” kata Sukirman.
Namun menurut calon bupati nomor urut 2 Markus, berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Bangka Barat
tahun 2023 sebesar 2,71 persen.
Sedangkan di saat ia menjabat bupati, angka kemiskinan hanya sebesar 2,46 persen.
“Berarti terjadi peningkatan angka kemiskinan sebesar 0,25 persen. Angka ini mengindikasikan pemerintahan yang berjalan sangat lamban,” ujar Markus.
Menanggapi hal itu calon bupati nomor urut 3 Mansah mengaku bingung dengan apa yang diklaim Sukirman dan Markus.
“Saya bingung data yang dipakai terkait dengan apa yang ditanyakan beda. Jadi di sana ada kenaikan di sini ada penurunan yang signifikan termasuk rentan kemiskinan beda,” ujar Mansah.
“Ini Pak nomor urut 1 ya ini perlu menjadi perhatian terkait data ini biar lebih konkrit lagi, data mana yang lebih dipakai untuk mengukur tingkat kemiskinan dan rentan miskin yang hari ini ada di Bangka Barat,” sambungnya.
Menurut Mansah, dari data yang dia lihat, dari 2018 hingga 2020 memang terjadi penurunan angka kemiskinan, tapi tidak signifikan.
“Jadi tidak ada kenaikan signifikan untuk penurunan kemiskinan di Bangka Barat dalam beberapa tahun terakhir ini,” ucapnya.
Sukirman tidak menampik apa yang dikatakan Markus dan Mansah, menurut dia memang ada perbedaan data yang diperoleh. Tapi ini bukan soal data saja, tapi situasi saat mereka menjabat terbentur dengan pandemi Covid 19.
“Artinya betul kata Pak Markus dan Pak Mansah tadi. Itu ada selisih tapi kita terus berjuang. Tapi nyatanya di tahun 2024 ini kan nyatanya ( kemiskinan) kita turun,” ucap Sukirman.
Selain itu kata Sukirman ada hal – hal lain yang sudah ia lakukan, seperti berinovasi mendorong UMKM, menyediakan lapangan kerja agar masyarakat bisa lepas dari kemiskinan.
“Langkahnya, support kecukupan pangan, harga murah di pasaran, sudah kami lakukan selama ini. Kemudian memberikan pupuk bersubsidi kita tidak lepas dari itu. Bibit – bibit unggul,” ujarnya.
“Konsentrasi kami yang paling utama adalah berobat gratis, ini wajib hukumnya bagi masyarakat tanpa pandang bulu,” sambung Sukirman. ( SK )
Sukirman dan Markus Saling Klaim Angka Kemiskinan Terendah






























