Kasat Pol PP Bangka Barat Akui, Kerusakan Alam di Menumbing Salah Satu Penyebab Banjir

Muntok — Kasat Pol PP & PB Bangka Barat, Sidarta Gautama yang turut serta meninjau lokasi banjir di Kampung Ulu menilai, selain curah hujan tinggi, penyebab banjir lainnya yakni air laut pasang dan kerusakan alam di Bukit Menumbing akibat penambangan liar.

” Karena suplai air dari atas ( Menumbing ) itu cukup deras. Kemarin kawan – kawan media juga tahu, kita sudah tangkap dua orang ( penambang ) dan kita masih kembangkan dan kita masih menelusuri pada sisi yang lain,” ujar Sidarta kepada wartawan saat memantau banjir di Kampung Ulu, Selasa ( 18/5 ).

Namun kata dia, tentu pihaknya tidak dapat bekerja sendiri untuk menertibkan aktivitas penambangan liar di Menumbing. Kerja sama dengan Polri dan TNI, khususnya Polres dan Kodim 0431/BB sangat dibutuhkan, juga awak media untuk memberikan informasi.

Menanggapi isu adanya oknum aparat yang ikut bermain di Bukit Menumbing, Sidarta mengatakan, siapa pun pelakunya tetap akan ditindak tegas. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Forkopimda. Dia optimis bila semua pihak bersinergi, masalah penambangan ilegal yang merusak Tahura Menumbing akan bisa diselesaikan.

” Ya kita koordinasi dengan seluruh Forkopimda, kalau kita sudah bergerak bersama – sama Insya Allah bisa diatasi. Siapa pun akan ditindak karena membahayakan,” tandas dia.

Sidarta mengaku kaget banjir di Kampung Ulu kali ini terjadi begitu cepat, padahal biasanya hujan yang durasinya hanya dua sampai tiga jam tidak menimbulkan banjir. Dia menilai ada yang tidak beres pada kejadian kali ini.

” Saya juga kaget informasinya kok sudah terendam karena biasanya kondisinya hujan itu minimal diatas enam jam dia banjir. Tadi baru dua mau ketiga jam sudah banjir. Berarti ada yang nggak beres ini. Makanya harus kita cek. Makanya saya ngajak Pak Wabup untuk melihat check dam yang ada Ciulong, jangan – jangan ada yang tidak berfungsi,” ungkapnya.

Di lain pihak, Dandim 0431 Bangka Barat, Letkol Inf. Agung Wahyu Perkasa mengatakan hal senada. Menurut dia, dengan curah hujan yang beberapa jam saja, keadaan Kampung Ulu sudah mengkhawatirkan.

” Kejadian ini menjadi suatu tolak ukur kita ya. Sebelumnya kita tidak ada banjir, hujan beberapa jam saja sudah mengkhawatirkan di kampung ini, salah satu rumah ini di lantainya sudah air semua,” ujarnya.

Menurut Agung, semestinya antara rumah warga dan tembok pembatas sungai harus ada jarak, demi keamanan pemilik rumah itu sendiri.

Dandim menyebut, hal yang harus diwaspadai saat ini adalah curah hujan yang tinggi. Untuk itu diperlukan Posko di lokasi tersebut agar para petugas dapat memantau perkembangan.

” Begitu curah hujan tinggi berarti kita harus segera mengingatkan warga agar persiapan untuk evakuasi atau kita nanti akan bekerja sama dengan Pol PP mendirikan Posko dekat sini memantau bagaimana situasi di kampung ini, termasuk yang ada di seluruh Bangka Barat. Intinya kami dari TNI siap untuk membantu menurunkan personel dalam rangka penanganan banjir,” tutup Agung. ( SK ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *