Diduga Mengandung Timah, Pondasi Percetakan Parahyangan Digali Pencuri

Muntok — Pondasi rumah warga Kampung Ulu, Kelurahan Tanjung, tepatnya Percetakan Parahyangan yang terletak di bawah Tebing Salam tidak jauh dari Pasar Muntok terancam roboh akibat digali orang yang tidak bertanggung jawab.

Menurut Chendra sang pemilik rumah, dia baru menyadari pondasinya berlubang digali orang pada 10 Oktober 2022 lalu.

“Kejadiannya tanggal 10 Oktober itu pas ketahuannya, tapi pas kejadiannya tanggal berapa kita nggak tahu. Tapi bekas – bekas galiannya masih segar karena masih ada jejak – jejaknya, jadi malam itu lah mungkin, cuma kita tahunya pas paginya,” jelas Chendra kepada wartawan, Selasa ( 25/10/2022 ).

Dikatakan Chendra, diduga pelakunya lebih dari satu orang. Dia memperkirakan tanah yang diangkut pelaku mencapai belasan karung. Memang saat kejadian ia dan istrinya tidak menyadari dan tidak mendengar suara – suara yang mencurigakan.

“Nggak kedengeran karena itu pas hujan rintik – rintik dan dari depan sini ke belakang itu kan agak jauh. Di situ kan nggak dipasang lampu juga sekarang sudah dipasang lampu,” ujarnya.

Dia memperkirakan kedalaman galian sedalam kurang lebih 1,5 meter. Setelah digali, untuk menyamarkan lubangnya pelaku menimbunnya dengan kayu – kayu dan menutupnya dengan rumput.

“Jadi kalau sekilas keliatannya nggak apa – apa, tapi begitu diliat lagi bolong semua itu. Kita nggak tahu apa mau dilanjutin ( galiannya ) besoknya,” imbuhnya.

Chendra tidak tahu apa yang dicari pencuri tersebut, namun ia menduga tanah pondasinya mengandung timah, tin slag atau arhet ( timah bersih dross ) sehingga menarik orang untuk menggali dan membawa tanahnya.

Bahkan pada Sabtu ( 22/10 ) lalu, tanah di rumah tetangga sebelahnya juga ikut digali.

Chendra mengatakan, terlepas dari apapun yang terkandung di dalam tanahnya, tidak seharusnya orang – orang yang tidak bertanggung jawab seenak sendiri menggalinya, karena masih ada pemilik sahnya. Dia khawatir bila dibiarkan rumahnya akan roboh, apalagi di kawasan Kampung Ulu dikenal rawan banjir.

“Kalau dikorek begitu kayak lubang tikus jelas lah bisa bikin rumah roboh. Pondasi kita di bawahnya udah bolong itu makanya cepat saya tutup sama pasir itu takut keburu misal air musim hujan kan dia turun bisa roboh,” kata dia.

Menurut dia polisi yang sedang berpatroli malam sempat melihat saat ia dan istrinya memeriksa lubang bekas galian tersebut. Namun dirinya memang belum membuat laporan secara resmi ke polisi, hanya ke pengurus RT/RW saja.

Demi keamanan rumahnya sekarang dirinya sudah memasang kamera pengintai atau CCTV.

“Sekarang pasang CCTV. Kita kalau yang sudah sudah lah tapi kita kan nggak tahu juga, bahaya. Terus ngerembet terus keliatannya ke tetangga juga. Kita pengennya sih aman. Dulu – dulu kan aman nggak pernah ini,” cetusnya.

Bahkan menurut Chendra, rumah tua yang letaknya tidak jauh dari rumahnya juga ikut menjadi korban tanahnya digali dan dicuri.

Dia menyayangkan rumahnya yang masih ia tempati juga ikut dijarah, padahal masih ditinggali dan menjadi tempat usaha percetakannya.

“Rumah buruk di sebelah itu kan habis. Mungkin karena di situ sudah habis mulai nyari lahan lain yang kira – kira ada. Makanya sampai ada orang tinggalnya pun dia berani. Maunya jangan merusak lingkungan lah, ini kan perumahan ada orangnya,” ujarnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *