Tertunda Empat Tahun, Air Siap Minum PDAM TSS dan LIPI Kini Terealisasi

Muntok — Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Sejiran Setason ( PDAM TSS ) Bangka Barat mempunyai inovasi baru berupa fasilitas air siap minum yang dipasang di tempat umum. Direktur PDAM TSS, Najamuddin mengatakan, program tersebut merupakan kerja sama pihaknya dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) yang sempat tertunda selama kurang lebih empat tahun.

” Saya melanjutkan program – program LIPI yang selama ini sempat tertunda, artinya salah satu launching air yang siap minum yang dinikmati masyarakat,” kata Najamuddin kepada awak media, usai Launching Fountain Drinking Water PDAM TSS di halaman Masjid Al – Islah, Kampung Air Terjun, Kelurahan Sungai Daeng, Muntok, Selasa ( 18/8/2020 ) pagi.

Memang pada langkah awal ini kata dia, fasilitas air siap minum tersebut baru di pasang di tiga titik, Masjid Al – Islah, Madrasah Aliyah Negeri 1 ( MAN ) dan Kantor PDAM, namun ke depan pihaknya akan memasang di titik – titik lain.

” Tiga titik tadi sekolahan dan masjid, salah satu di PDAM dan itu gratis. Jadi kedepannya mungkin PDAM sendiri tapi tetap di bawah teknisnya LIPI, kami akan mencoba membuat di titik lainnya, apalagi tadi pak Bupati minta ke Pemda,” jelasnya.

Sementara bila untuk dipasang ke tempat – tempat umum lain yang lebih luas seperti di pasar dan sebagainya, Najamuddin mengatakan hal itu masih akan dipikirkan terlebih dahulu. Begitu pula untuk pelanggan. Alasannya, investasi yang dibutuhkan sangat besar.

” Saya kira untuk pelanggan kita kan investasi besar – besaran karena dia kan pipa khusus, saya kira masih panjang kalau untuk semua pelanggan. Karena pipa lama nggak mungkin kita pakai, pipanya harus higienis, mungkin dengan jangka panjang itu bisa,” bebernya.

Dia menambahkan, fasilitas kran air siap minum yang digunakan sekarang merupakan mesin hibah dari LIPI yang bernilai Rp. 40 juta. Sedangkan mesin pengolah airnya bernilai Rp. 100 juta.

” Mesin hibah LIPI, investasi itu alat itu sekitar 40 juta dan mesin seratus, jadi lebih dari dua ratus juta,” katanya.

” Harapannya air itu bisa dimanfaatkan oleh anak-anak yang sekolah di MAN, kaum ulama di masjid dan kami berharap alat itu dijaga, karena kalau tidak dijaga dia akan mubazir,” timpal Najamuddin. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: