Puluhan Guru PAUD Bangka Barat Tuntut Disetarakan dengan Guru Formal

HEADLINE, PENDIDIKAN623 Dilihat

BANGKA BARAT — Puluhan guru non formal dan pengelola Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang tergabung dalam Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia
( HIMPAUDI ) Kabupaten Bangka Barat, mendatangi Komisi I DPRD Bangka Barat di Gedung Mahligai Betason II, di Kecamatan Mentok, Senin (28/7/2025).

Mereka meminta dukungan dari anggota dewan untuk mengawal dan meneruskan aspirasi terkait status guru PAUD non formal yang belum diakui oleh pemerintah.

DPRD pun menggelar audiensi dipimpin Wakil Ketua Komisi I DPRD Bangka Barat Deddi Wijaya, didampingi anggota dewan lainnya.

Menurut Ketua Pengurus Daerah HIMPAUDI Kabupaten Bangka Barat Erika Herlina, tujuan mereka mendatangi Kantor DPRD adalah memperjuangkan kesetaraan dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD non formal dengan tenaga pendidk formal.

“Kami berjuang untuk mencapai pengakuan, dan pemenuhan hak status guru. Kelompok bermain, taman penitipan anak dan satuan PAUD sejenisnya. Untuk setara dan sejahtera, sama dengan teman-teman yang ada di sekolah formal,” cetus Erika Herlina.

Kesetaraan yang dimaksud Erika antara lain dari insentif hingga persoalan lainnya, juga harus disamakan dengan guru formal.

“Karena begini, kami dari non formal melakukan aturan yang ditetapkan pemerintah itu sama. Seperti dilakukan rekan di sekolah formal. Tidak ada perbedaan, dari kurikulum, data dapodik, akreditasi, kita melaksanakan di lembaga kita masing – masing,” ucapnya.

Menurut dia dari hal – hal tersebut masih ada kesenjangan. Erika menilai undang-undang guru dan dosen pun tidak mengakui sekolah non formal.

“Yang diakui hanya sekolah formal. Mudah – mudahan pertemuan ini, dapat pencerahan untuk kesejahteraan ke depannya,” harap dia.

HIMPAUDI Kabupaten Bangka Barat kata Erika menyuarakan kesetaraan dari 548 guru PAUD non formal, agar dapat setara dengan guru formal di Bangka Barat. Apalagi dari sisi insentif perbedaannya sangat jauh.

“Mereka mendapatkan insentif Rp350 per bulan. Jauh kami rasakan dari teman-teman di sekolah formal dengan honor dari pemda Rp1.400.000 dengan pendidikan SLTA dan S1 itu Rp1.900.000,” ungkap Erika.

“Jadi jauh perbandingan dengan kita di non formal. Selain itu, kami menyuarakan BPJS Kesehatan bagi teman – teman, ada bantuan kesehatan karena namanya guru tidak mungkin sehat selalu,” sebutnya.

Di lain pihak Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat Henky Wibawa mengatakan, HIMPAUDI
memperjuangan kesetaraan guru PAUD non formal agar sejajar diakui regulasi berdasarkan undang-undang, dengan guru dengan PAUD formal, TK Negeri/swasta.

“Membawa persolaan ini ke tingkat pusat, terkait bagaimana memberikan masukan usulan perubahan sistem pendidikan nasional, terkait undang-undang guru dan dosen, sehingga masuk klausul sejajar dengan pendidikan PAUD formal,” kata Henky.

Persoalan ini menurut dia merupakan isu nasional dan terjadi di sejumlah daerah, sehingga menjadi perhatian pemerintah pusat, terkait dengan keluhan dan keinginan dari para guru PAUD non formal di Bangka Barat.

“Karena pendidikan wajib 13 tahun 1 tahun pra sekolah dimaksud satu tahun jenjang PAUD dan memperhatikan regulasi yang ada. Standar kebijakan 1 desa satu PAUD, seriing berjalan pengakuan kesetaraan pendidikan formal dan non formal,” kata Henky.

“Minimal dalam pengakuan penamaan, misalnya dari sisi administrasi, sudah setara mendapatkan kompetensi, sertifikasi, dan pelatihan lainnya dan muaranya pada peningkatan kesejahteraan,” sambungnya.

Pemkab Bangka Barat menurut dia memberikan insentif sebesar Rp350.000 untuk guru PAUD non formal yang berjumlah 450 orang.

“Insentif kita memberikan Rp350.000 per bulan, untuk guru PAUD non formal untuk satu tahun, sebanyak 450 orang, diberikan per triwulannya. Jadi ini, masalah nasional semua daerah membawa aspirasi sampai tingkat pusat,” ucapnya.

“Semoga menjadi pembahasan dan agenda prolegnas memasukakn perubahan terkait pendidikan nasional, yang mengatur lebih jelas kesetaraan bagi guru PAUD harapan kita semua setara,” harap dia. ( SK )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *