Bong Ming Ming dan Safri Bicara Harga Lada, dari Vietnam hingga ke Belanda

Muntok — Calon wakil bupati Bangka Barat nomor urut 2, Bong Ming Ming menantang calon bupati nomor urut 3, Safri Arsyad menaikkan harga lada. Bong Ming Ming mempertanyakan cara Safri yang berlatar belakang pengusaha sukses menaikkan harga lada di Bangka Barat.

Pertanyaan tersebut ia lontarkan dalam debat publik calon bupati dan wakil bupati Bangka Barat Pilkada 2020 di Hotel Pasadena, Muntok, Rabu ( 11/12 ) tadi malam.

” Saat ini masyarakat sedang giat – giatnya menanam lada karena bantuan dari Provinsi maupun Pusat. Pertanyaan sederhananya begini, bagaimana cara Bapak menaikkan harga lada? hari ini Provinsi sudah melakukan Resi gudang tapi tidak efektif, bila Bapak terpilih apa yang akan Bapak lakukan untuk menaikan harga lada, dimulai dari Bangka Barat?,” kata Bong Ming Ming.

Menurut Safri, siapa pun bupati dan gubernurnya, kalau berani berjanji menaikkan harga lada , itu tidak mungkin dan omong kosong.

” Lada menjadi komoditas utama pertanian, saya pastikan siapapun bupatinya, siapapun gubernurnya kalau berani berjanji bisa menaikkan ( harga ) lada saya bilang nonsense, nggak mungkin,” tukas Safri.

Hal yang bisa dilakukan kata Safri dengan memaksimalkan lahan yang ada agar hasil panen melimpah. Dia mengambil contoh negara Vietnam yang mampu melakukan hal tersebut.

” Bagaimana caranya menanam lada ketika satu hektar, kita ambil di Vietnam satu hektar bisa menghasilkan 3 sampai 4 ton. Tapi ketika bicara lada di Bangka Barat di Bangka Belitung, satu hektar kita bicara 500 – 600 kilogram. Artinya apa? ketika harga lada Rp.50.000 di Vietnam sana dikalikan 4 ton mereka akan bicara 200 juta. Tapi bicara di Bangka Barat 500 kilo dikalikan 50.000 kita baru bicara di angka 25 juta. Ini problemnya?,” ujarnya.

Safri menegaskan, mereka tidak berani menjanjikan kenaikan harga. Karena bila melihat dari negara Vietnam, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan hasil panen menjadi sepuluh kali lipat, dari 500 kilogram menjadi 4 sampai 5 ton.

Kendala saat ini kata dia, tidak sinkronnya para pejabat dari level gubernur, bupati sampai ke kepala desa.

” Ketika gubernur melakukan bibit lada gratis, bupati – bupatinya mohon maaf, gubernur ke barat bupati ke timur kadesnya ke selatan. Kalau paslon nomor 3 amanah, gubernur bupati yang paling kami tunggu adalah kadesnya yang tahu persis suatu daerah. Makanya program kami nantinya ketika gubernur bupati dan kadesnya sinergi, tidak ada menjadikan kawan – kawan, rakyat, masyarakat Bangka Barat untuk bicara 100 – 200 per kilo. Yang bisa kami pastikan bagaimana caranya itu ( lada ) bisa umurnya panjang dan hasilnya memuaskan,” cetus Safri.

Menanggapi Safri, Bong Ming Ming mengatakan, harga lada bisa dinaikkan dengan cara mencari potensi pasar yang baru, salah satunya negeri Belanda. Menurut dia, hal itu sudah dimulai di jaman Ustadz Zuhri dan H. Sukirman menjadi bupati dan wakil bupati Bangka Barat.

” Kampanye Belanda itu sudah dilakukan di zaman ustadz Zuhri dan Haji Sukirman, nggak ada di Vietnam hari ini di atas 300.000. Artinya apa yang harus dilakukan, ada dua hal,” katanya.

Mantan anggota DPRD Provinsi Babel ini menjelaskan, dua hal yang perlu dilakukan yaitu keterjaminan supply dan kualitas lada.

” Ini yang harus dijawab. Kalau itu bisa kita jawab Belanda siap mengambil lada ke Bangka Barat. Kalau itu yang terjadi Insya Allah lada Bangka Barat akan naik,” tandasnya.

Untuk mewujudkannya jelas dia, dapat dilakukan dengan cara membina para petani, membangun pabrik lada dan menciptakan sistem industri lada.

” Kita mempersiapkan petani menjadi petani binaan, kemudian setelah itu kita akan siapkan pabrik ladanya sehingga kita membuat sistem namanya industri lada. Begitu panen kita ambil mentah langsung kemudian diproses di pabrikannya. Insya Allah hasilnya baik sesuai standar mereka, Insya Allah harganyanya bisa naik,” pungkas Bong Ming Ming. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: