Angka Prevalensi Stunting Bangka Barat Peringkat 3 se – Bangka Belitung

BANGKA BARAT — Masalah stunting masih jadi perhatian Pemerintah Daerah Bangka Barat. Terkait hal itu Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Bangka Barat mengadakan rembuk stunting tingkat kabupaten di Ruang OR II Setda Bangka Barat di Kecamatan Mentok, Rabu (17/9/2025).

Tema yang diangkat yakni ” Melalui Rembuk Stunting Tingkat Kabupaten, Optimalkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting sebagai Upaya Menurunkan Prevalensi Stunting di Bangka Barat”.

Menurut Kepala DP3AP2KB Bangka Barat Sarbudiono, pemerintah daerah bersama stakeholder terkait terus berupaya menurunkan stunting di Bangka Barat, berkolaborasi dengan berbagai pihak agar angka stunting bisa ditekan.

“Saat ini sudah terlihat adanya penurunan sehingga posisi Bangka Barat yang sebelumnya tertinggi di provinsi kini turun ke peringkat ketiga,” jelasnya.

Sarbudiono mengatakan melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting ( Genting), pemerintah ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya dukungan keluarga dalam pencegahan stunting.

Anak-anak dari keluarga kurang mampu akan mendapatkan bantuan berupa makanan bergizi sehingga dapat menunjang pertumbuhan badan mereka.

“Artinya, sejak awal posisi Bangka Barat yang dulu di tingkat provinsi termasuk tinggi, kini sudah mulai turun ke level tiga. Selama ini kita selalu berada di atas, tapi dengan upaya bersama, hasil positif sudah mulai terlihat,”lanjut dia.

Wakil Bupati Bangka Barat Yus Derahman yang hadir membuka kegiatan menegaskan pentingnya peran semua pihak dalam mendukung program pemerintah untuk percepatan penurunan stunting.

“Kami sangat berharap partisipasi semua pihak untuk membantu program pemerintah dalam percepatan penurunan stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting,” kata Yus Derahman.

Yus berharap Genting dapat membantu mengatasi permasalahan stunting di Kabupaten Bangka Barat, khususnya dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui serta keluarga dengan anak usia 0 sampai 23 bulan.

Dia menerangkan, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Bangka Barat sudah di level 3, se Provinsi Bangka Belitung.

Berada pada angka 19,6 persen, ada peningkatan status gizi jika dibandingkan dari SKI tahun 2023 sebesar 20,6 persen.

Meski demikian, data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) Februari 2025 masih mencatat adanya beberapa desa dengan prevalensi stunting di atas rata-rata nasional, seperti Desa Ibul 23,3 persen, Desa Berang 20,4 persen, Desa Peradong 21,7 persen dan Desa Simpang Tiga 23,6 persen.

Namun menurut data Kementerian Kesehatan, secara umum tren prevalensi stunting di Kabupaten Bangka Barat menunjukkan perbaikan signifikan sejak 2018 hingga Februari 2025, di mana angka stunting sudah berada di bawah 14 persen dengan capaian 7,6 persen.

“Melalui rembuk stunting tingkat kabupaten tahun 2025 ini, kami berharap hasil yang diperoleh bisa menjadi acuan kebijakan bagi instansi terkait dalam intervensi stunting,” harap Wabup.

Yus juga meminta dengan adanya rembuk stunting dapat memotivasi semua pihak untuk terus berusaha dan pantang menyerah dalam rangka percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka Barat. ( SK )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *