Gawat, Madu Pelawan Simpang Tiga Bangka Barat Malah Di-branding Kabupaten Lain

HEADLINE, Politik1830 Dilihat

BANGKA BARAT — Bakal calon bupati Bangka Barat Masrura Ram Idjal dibikin kaget saat bertandang ke Desa Simpang Tiga, Kecamatan Simpang Teritip.

Rasa kagetnya muncul saat berdialog dengan warga setempat saat mengunjungi hutan pelawan penghasil madu pelawan asli di desa itu.

Ternyata Desa Simpang Tiga memiliki hutan pelawan yang besar yang menghasilkan madu pelawan pahit, tapi tidak punya pasar untuk menjualnya.

Lebih miris lagi, madu itu malah dibeli kabupaten lain di Babel dengan harga murah dan di-branding atas nama mereka, kemudian dipasarkan ke seantero jagad dengan harga tinggi. Termasuk di Jakarta, harga madu pelawan dibanderol hingga jutaan rupiah. Hal itu menjadi sorotan wanita jebolan Oxford Brookes University ini.

“Ternyata hutan pelawan yang ada di Bangka yang banyak dan besar itu ada di situ. Saya memang suka minum madu dari dulu. Saya kaget, ternyata madu pelawan yang pahit itu asalnya dari sana ( Desa Simpang Tiga) dan harganya jauh lebih murah. Di Jakarta sampai sejuta lebih harganya,” ucap Masrura, Sabtu ( 20/7/2024 ).

Mirisnya lagi, branding yang dilakukan kabupaten lain atas nama mereka itu sudah sangat kesohor, padahal madu pelawan yang diambil sebagian besar berasal dari Desa Simpang Tiga.


“Kabupaten lain itu punya hutan pelawan tapi tidak banyak. Madu mereka ( Simpang Tiga) itu di-branding oleh kabupaten lain di luar Bangka Barat. Tapi yang lucunya mereka yang di Simpang Tiga tidak punya pasar, daripada tidak laku maka dikasih lah ke kabupaten lain dan oleh kabupaten itu dibranding atas nama mereka,” katanya.

“Sehingga nama yang muncul ya dari kabupaten itu. Dan mereka berhasil menjualnya kemana – mana termasuk di Jakarta dengan harga jutaan, padahal barangnya dari Simpang Tiga,” sesal Masrura.

Maka menurut Masrura pemda setempat harus turun tangan membantu masyarakat Desa Simpang Tiga. Mereka harus dicarikan market atau pasar, diadakan pelatihan untuk kemasan produknya agar lebih menarik dan juga dibantu untuk mempromosikannya.

“Sekarang kan kalau memang mau kita bisa promosikan secara online madu pelawan satu – satunya di sana. Tapi siapa yang mau mengerjakannya, bikin website dan sebagainya? Apakah masyarakat punya kemampuan untuk menjual secara online? Nah ini seharusnya pemerintah lah yang ambil alih untuk memberikan pelatihan,” tukasnya.

“Yang dibranding kabupaten lain itu madu manisnya juga. Jadi sepertinya harus dibantu, pemerintah harus membantu bagaimana caranya untuk mencarikan pasar untuk mereka sehingga mereka bisa mendapatkan harga bagus. Sekarang karena dibeli murah tidak bisa mensejahterakan mereka,” cetusnya.

Potensi lain yang terdapat di madu tapi diabaikan yaitu royal jelly. Dijelaskan Masrura, royal jelly adalah produk olahan lebah, selain madu dan bee pollen. Produk ini merupakan nutrisi menyerupai susu yang disekresi oleh lebah untuk dikonsumsi oleh ratu lebah dan lebah muda.

“Padahal royal jelly itu itu harganya mahal. Harusnya nanti pada waktu mereka panen itu royal jelly itu diambil. Cuma memang harus ada modal karena royal jelly itu tidak tahan lama di luar. Harus disiapkan pendingin seperti freezer sehingga pada waktu diambil bisa langsung disimpan di situ, ” kata dia.

“Ini juga sebuah peluang cuma tidak mereka manfaatkan karena mereka nggak tahu cara pengolahannya. Selama ini waktu mereka ngambil madunya royal jelly-nya dibuang begitu saja,” sambung Masrura.

Ditegaskannya, Desa Simpang Tiga sudah memiliki produk madu dan royal jelly yang sangat bagus.

Hutan pelawan yang indah di desa itu juga berpotensi menjadi destinasi wisata. Karena itu pemda setempat tentu harus turun tangan untuk membantu masyarakat Desa Simpang Tiga yang produk madunya malah dimanfaatkan dan diambil keuntungannya oleh kabupaten lain.

“Produk sudah bagus madu termasuk royal jelly itu untuk tambahan. Kalau mau maju mau tidak mau pemerintah harus membantu mereka. Hutan pelawan itu bisa juga jadi potensi wisata. Itu bagus bahkan sudah pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional,” tutup Masrura. ( SK )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *