Simpang Teritip — Disaat orang lain tidak pernah berpikir untuk membudidayakan tanaman pelawan, Abdul Aziz, warga Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat malah melakukannya.
Sejak tahun 2000 lalu, pria ini membeli lahan seluas 2 hektare dan mulai membudidayakan tanaman endemik Bangka ini. Dia memperkirakan jumlah pohonnya saat ini sudah kurang lebih puluhan ribu.
Menurut Aziz, secara ekonomis, tanaman pelawan cukup menjanjikan karena bisa dikembangkan untuk beternak madu pelawan.
Madu pelawan asli Pulau Bangka cukup terkenal, bahkan harganya bisa mencapai Rp.500 ribu per botol.
” Soalnya madu pelawan itu harganya cukup tinggi. Kalau kita ternak madu otomatis nektar bunga itu nggak jauh – jauh, karena dia ( lebah ) sumber makanannya dari bunga pelawan,” jelas Aziz di Hutan Pelawan miliknya, di Desa Pelangas, Sabtu ( 25/7 ).
Selain madu pelawan, biji dan bunga pelawan dapat juga dikembangkan untuk pengharum aroma kopi dan pucuk daunnya yang masih muda bisa dikembangkan menjadi teh seduh.
” Jadi kopinya itu beraroma bunga pelawan. Rasanya mirip madu pelawan. Itu bisa dari biji dan bunga yang sedang mekar. Terus ini pucuk muda bisa kita jadikan teh. Tehnya pun beraroma khas bunga pelawan. Udah pernah coba sendiri tapi baru coba – coba karena kita bukan ahlinya. Masih perlu inovasi dan penelitian,” kata Aziz.
Namun selain dari sisi pengembangan, niat Aziz membudidayakan tanaman pelawan karena rasa prihatin melihat hutan di Bangka sudah banyak tergerus perkebunan sawit. Dia khawatir bila tidak dilestarikan, tanaman endemik Bangka akan punah dan hanya tinggal kenangan.
” Soalnya kan kan selama ini hutan Bangka sudah banyak habis sudah tergerus sama perkebunan sawit, jadi sawit bukan tanaman asli lagi, dia tanaman pokok keras. Jadi hutan pelawan ini salah satu tananaman endemik Bangka. Saya ingin melestarikan jangan sampai anak cucu nanti nggak tahu lagi yang mana pelawan itu kan,” katanya.
Karena itu di hutan pelawannya ini ia selingi juga dengan tananam khas Bangka lainnya, seperti cucur atap, sapu – sapu, buah bernai, buah kepayang, rukem, kisel serta ditambah pula dengan durian dan cempedak.
” Pelawan ini perlu dirawat juga. Rumput – rumput liar di sekitarnya kan harus dibersihkan agar pelawannya bisa tumbuh dengan baik,” tutup dia. ( SK )






























