Warga Kampung Ulu di Pinggir Sungai Siap Direlokasi

Bangka Barat — Kampung Ulu, Kelurahan Tanjung yang letaknya di dataran rendah dan dilewati aliran sungai dengan muara ke laut tidak terlalu jauh, menjadi salah satu kawasan langganan banjir di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat.

Menurut Ketua RW 07 Kampung Ulu, Kelurahan Tanjung Nurzali Hamid, jumlah rumah yang sangat terdampak oleh bencana banjir sebanyak 34 unit.

Pihaknya selalu mendata ketinggian air dan kerusakan yang dialami perumahan warga setiap kali terjadi banjir.

“Kami memantaunya dengan membuat tabel. Tinggi air yang masuk ke rumah, kerusakan yang ditimbulkan dan lain – lain,” ujar Nurzali saat ditemui di kediamannya, Jum’at ( 9/12/2022 ).

Hal itu membuat masyarakat tidak bisa tenang setiap tiba musim penghujan. Salah satu pilihan bagi masyarakat Kampung Ulu agar terhindar dari banjir adalah relokasi atau pindah ke tempat yang lebih aman.

Nurzali pribadi menyatakan setuju bila direlokasi, namun dengan catatan nominal pengganti yang diberikan pemerintah sesuai dan tidak membuat warga tambah rugi.

Bahkan bila diberikan uang pengganti yang cocok dan disuruh mencari lahan sendiri pun ia bersedia.

“Kalau saya sudah dari dulu setuju. Tempo hari kan ada isunya gini, kasih lah gantinya berapa kami cari sendiri, kami tinggalkan rumah ini, silahkan diambil Pemda atau pemerintah. Bagi yang nggak mau kan risiko dia lah,” cetusnya.

Menurut pria yang akrab disapa Bang Zali ini, selain dirinya, rata – rata warga Kampung Ulu yang rumahnya terletak di pinggir sungai bersedia bila direlokasi.

“Misalnya dianggarkan pokoknya kamu tinggal di rumah sesuai atau dikasih duitnya kamu tinggalkan terserah kalian mau cari di mana. Disiapkan lahan juga boleh. Warga yang di pinggir sungai banyak yang setuju. Tapi dengan catatan sesuai,” katanya.

Sementara itu Wakil Bupati Bangka Barat Bong Ming Ming mengatakan, untuk merelokasi warga Kampung Ulu hendaknya harus mempertimbangkan beberapa hal.

Kampung Ulu menurut dia merupakan kampung tua di Kecamatan Muntok yang memiliki nilai sejarah. Di samping itu dampak sosial lainnya juga harus diperhitungkan.

Opsi pertama, relokasi tidak perlu dilakukan. Dataran rendahnya kata Wabup ditinggikan dengan pasir yang digali dari sungai.

“Tapi kan kita harus melihat dampak sosialnya juga kita bicara masyarakatnya bersedia atau tidak ( direlokasi),” kata Bong Ming Ming di ruang kerjanya, Kamis ( 9/12 ) kemarin.

Bila masyarakat bersedia direlokasi, Pemda Bangka Barat sudah menyiapkan lahan seluas 8 – 13 hektare di daerah Tanjung Laut.

“Kita sudah menyiapkan satu wilayah di sekitar 8 sampai 13 hektare dan kita komunikasikan lahan tersebut kita jadikan lahan Pemda Bangka Barat, sehingga merelokasi beberapa titik, termasuk masyarakat yang ada di Pantai Batu Rakit yang sekarang mendiami tanah Pemda Bangka Barat,” ujarnya.

Menurut Bong Ming Ming kawasan yang disiapkan layak huni, baik dari sisi rumah, faktor lingkungan serta faktor ekonominya.

“Kemarin sudah sempat kita presentasikan ke Kementerian Kelautan. Memang kita sedang mempersiapkan master plan dan DED-nya ( Detail Engineering Design ). Kemarin kita presentasikan itu dalam bentuk sebuah gambaran besar tentang areal tersebut,” terangnya.

“Kalau memang tempat itu tersedia dan kalau memang masyarakat Kampung Ulu memang bersedia, mungkin kita bisa arahkan ke sana. Bisa jadi Kampung Ulu nanti kita jadikan sebuah kawasan untuk hal yang lainnya,” ucap Wabup. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: