Wakil Menteri Sebut Kerupuk Bangka Sudah Terkenal

Muntok — Kerupuk Bangka salah satu produk lokal yang disentil Wakil Menteri Desa, Pemberdayaan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Budi Arie Setiadi, saat mengunjungi Kampung Amoi, Kelurahan Tanjung, Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kamis ( 21/7/2022 ).

Menurut Budi, kerupuk Bangka sudah terkenal. Ini merupakan modal bagi Kabupaten Bangka Barat untuk mengembangkan produk lokalnya ke level nasional.

” Di Bangka Belitung khususnya di Kabupaten Bangka Barat, saya kesini udah dititipin bawain kerupuk Bangka ya nanti. Oh berarti kerupuk Bangka udah terkenal. Jadi intinya orang Jakarta kalau ke Bangka mikirnya kerupuk Bangka, betul nggak? Ini sudah modal lho. Sama kayak kita ke Semarang mau makan lumpia, jadi setiap daerah punya kekhasan,” ujar Budi Arie Setiadi dalam sambutannya.

” Sama kalau kita ke Palembang ada empek-empek, ke Bandung siomaynya top, jadi setiap daerah punya kekhasan masing – masing. Madiun terkenal pecelnya,” sambung dia.

Budi mengatakan, Bangka Belitung juga sudah memiliki produk khasnya, bahkan kerupuknya bisa dibilang sudah cukup terkenal. Padahal pembuatannya biasa – biasa saja.

” Tapi kenapa kerupuk Bangka terkenal? Nah itu lah kelebihan Bangka yang menurut saya harus didorong. Nanti packagingnya dirapikan,” cetusnya.

Menurut dia, digitalisasi desa, satu dari lima isu penting dalam pembangunan desa. Karena itu orang desa harus paham dan melek literasi digital.

Dan salah satu isu penting yang akan dibahas Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada November 2022 mendatang
adalah digitalisasi ekonomi.

” Literasi digitalnya harus kuat sehingga digitalisasi ekonomi ini bukan hanya menjadikan masyarakat atau warga kita ini sebagai konsumen, tapi juga sebagai produsen,” cetus Budi.

Menurut Budi, digitalisasi ekonomi akan membuka semua kemungkinan produk – produk dari Bangka, khususnya Kampung Tanjung, Kabupaten Bangka Barat bisa dipasarkan secara luas, salah satunya kerupuk Bangka.

Menurut dia persoalan yang dihadapi BumDes dan pelaku UMKM hanya tiga, yakni produksi, pemasaran dan permodalan. Karena itu diharapkan ada pihak lain yang ikut membantu.

” Kalau dibantu disupervisi oleh PT. Timah untuk advokasi untuk supervisinya, karena problem BumDes dan UMKM itu cuma tiga, bagaimana memproduksinya, bagaimana pemasarannya sama permodalannya, cuma tiga aja, bolak – balik persoalannya tiga itu aja. Ini mudah – mudahan bisa disupport dan juga ada produk – produk unggulan,” tandas Budi. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *