PANGKALPINANG – Dunia maya kembali diramaikan dengan perdebatan panas soal karya seni berbasis AI setelah karakter Tung Tung Sahur muncul di dalam game populer Free Fire.
Karakter aneh nan lucu ini dikenal sebagai “anomali brainrot” gambaran kentungan pos ronda yang hidup dengan tangan, mata, dan mulut yang pertama kali viral melalui TikTok.
Tung Tung Sahur sendiri bukan karakter dari franchise resmi, melainkan hasil dari prompt AI yang dibuat oleh seorang kreator bernama Noxa, yang kemudian menyebar cepat dan menjadi fenomena meme.
Sayangnya, ketika Free Fire menggunakan sosok ini sebagai karakter event di dalam game, Noxa sebagai pihak yang pertama kali menggagas konsep visual tersebut merasa tidak dihargai secara etika.
Dalam salah satu unggahan TikTok-nya, Noxa mengaku telah menghubungi pihak Garena, developer Free Fire, namun tidak mendapat balasan.
“Iya gua tau gak bisa di-copyright, tapi minimal etika kek. Gua chat gak dijawab? Sekelas game top 1 di Indo?” tulisnya, Minggu, (15/06/2025).
Kasus ini menyorot satu fakta yang masih sering disalahpahami: gambar hasil AI generatif tidak bisa diklaim hak ciptanya oleh manusia. Sebab, secara hukum, yang menciptakan visual tersebut bukan manusia, tapi sistem AI. Ide dan kata-kata yang ditulis manusia atau “prompt” dianggap sebagai instruksi, bukan karya akhir.
“Semua orang bisa punya ide,” tulis salah satu netizen dalam forum diskusi.
“Tapi di dunia ini, yang dianggap berkarya adalah orang yang merealisasikan ide itu, bukan Cuma yang ngomong.”
Ini mengundang refleksi soal peran “prompter AI”. Mereka mengetik deskripsi, tapi kemudian merasa menjadi pencipta penuh. Padahal:
- Komposisi warna dibuat AI.
- Gaya visual dibuat AI.
- Struktur wajah, tangan, tekstur semua dirakit otomatis oleh mesin.
Tanpa AI, prompt-nya tidak akan menghasilkan apa-apa. Maka muncul sindiran bahwa sebagian prompter terlalu keras kepala ingin diakui sebagai seniman, meski tidak memiliki keahlian menggambar atau desain visual secara manual.
Perdebatan ini memunculkan kekhawatiran lebih besar di dunia seni digital: apakah menulis prompt bisa dianggap berkarya? Apakah ke depan, label “seniman” cukup dengan menulis kalimat deskriptif dan membiarkan AI menyulapnya menjadi visual?
Sebagian seniman konvensional menganggap ini sebagai degradasi seni, di mana proses, teknik, dan emosi dalam menggambar digantikan oleh klik dan ketikan. Sementara itu, para prompter berargumen bahwa mereka juga punya nilai kreatif, terutama dalam merancang narasi visual lewat kata-kata.
Meski tidak ada pelanggaran hukum dalam penggunaan karakter AI generated oleh game online Free Fire, pertanyaan tentang etika dan apresiasi tetap menjadi sorotan.
Apakah perusahaan besar seharusnya tetap memberi kredit atau bahkan insentif kepada kreator awal, meskipun karyanya tidak bisa dilindungi hukum?
Kasus Tung Tung Sahur jadi refleksi nyata bagaimana teknologi, hukum, dan etika saling bersilang di era digital. Dan di tengah semua itu, satu hal tetap jelas: internet tidak pernah kehabisan bahan drama. (Riyanda)






























