Kasus DBD di Bangka Barat Telan 1 Korban Meninggal Dunia

HEADLINE, KESEHATAN151 Dilihat

Muntok — Memasuki musim penghujan, kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD ) di Kabupaten Bangka Barat kembali muncul, bahkan menelan satu korban meninggal dunia.

Pasien tersebut berinisial FC, warga Kampung Sawah, Kelurahan Tanjung, Muntok. Balita perempuan itu meninggal dunia di RSUD Sejiran Setason pada Selasa ( 9/11 ) malam.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Puskesmas Muntok, Harianto mengatakan, DBD merupakan penyakit yang berbasis perilaku dan pemberdayaan masyarakat itu sendiri. Hal paling penting adalah membuat masyarakat sadar, tahu serta mampu melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS ).

Menurut Harianto, pihaknya telah melakukan edukasi secara maksimal dengan melaksanakan program inovatif JBJ, atau Jumat Berantas Jentik. Tapi upaya itu hasilnya akan lebih efektif bila didukung dengan PHBS dari masyarakat.

” Kita juga sudah membentuk juru pemantau jentik di setiap rumah, namun kembali lagi perilaku PHBS yang belum dibudayakan,” kata Harianto saat dikonfirmasi, Kamis ( 11/11 ) malam.

Menurut dia, agar kecamatan bisa melakukan penekanan ke pihak kelurahan untuk mengajak masyarakatnya menerapkan PHBS dalam tatanan rumah tangga, maka perlu diterbitkan lagi Surat Edaran Bupati agar kasus DBD bisa diantisipasi.

Dia menambahkan, fogging focus dan abatisasi bukan solusi yang tepat untuk mengatasi penularan DBD. Cara yang paling efektif adalah dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN ) serta 3M plus.

3M yang dimaksud yakni, Menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, Menutup rapat semua tempat penyimpanan air dan Memanfaatkan limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang).

” Namun hal ini sangat lah sulit dilakukan masyarakat, ketika ada kasus, baru menyadarinya dan menyalahkan pemerintah, khususnya nakes. Lebih tepat sebetulnya membiasakan PHBS, salah satunya adalah pemberantasan sarang nyamuk, PSN,” tukasnya.

Hal senada juga dikatakan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat, M. Putra Kusuma. Menurut dia, memang fogging focus dan abatisasi bisa mengurangi risiko penularan, tapi kedua metode tersebut hanyalah penanganan jangka pendek.

” Jangka panjangnya harus berawal dari rumahnya masing – masing, harus berawal dari lingkungannya masing – masing, harus berawal dari tatanan kehidupan yang paling terkecil. Setiap rumah harus memastikan di rumahnya tidak ada jentik nyamuk,” cetus Putra.

Ia menegaskan, pembersihan jentik nyamuk harus dilakukan dari dalam hingga luar rumah, sehingga risiko penularan berkembang biaknya nyamuk potensial DBD menjadi kecil atau bahkan tidak ada.

Upaya itu harus dimulai dari sekarang. Rumah harus dibersihkan dari tempat penampungan air yang tidak termanfaatkan. Bila airnya masih ingin digunakan, maka air tersebut harus ditaburi serbuk abate.

” Kalau fogging focus itu upaya terakhir dan itu upaya jangka pendek, bukan jangka panjang. Kalau seluruh masyarakat memastikan tidak ada jentik nyamuk di rumahnya maka potensi terjadinya penularan itu semakin kecil,” tutupnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *