Cara Paling Jujur Mengalahkan Writer’s Block

HEADLINE63 Dilihat

Ada satu penyakit yang paling ditakuti oleh siapa pun yang berprofesi sebagai penulis. Penyakit itu adalah ketika kepala mendadak menjadi ruang hampa, padahal tadinya semangat banget pengen nulis.

Otak mendadak mogok kerja yang diidap para penulis ini disebut Writer’s Block atau kebuntuan menulis.

Kita hanya terpaku menatap kursor yang berkedip-kedip ritmis, seolah-olah ia sedang mengejek ketidakberdayaan kita.

Secangkir kopi sudah hampir mengering dan asap rokok kebal kebul menyesaki kamar, cicak di dinding pun sudah capek berdecak, tapi tak satu huruf pun yang mampu diketik jari jemari.

Memang niat hati pengen banget menulis, tapi ketika jari sudah bersiap di atas keyboard, seluruh kata yang tadinya mengantre di kepala mendadak menguap tanpa jejak, otak lagi buntu, benar – benar buntu.

Ironisnya, kebuntuan ini sering kali bukan karena kita tidak punya ide, melainkan karena kita terlalu menuntut diri untuk menghasilkan sesuatu yang “sempurna” sejak kalimat pertama.

Ekspektasi itu bisa jadi salah satu hal yang menyumbat aliran ide. Sebab seringkali ketika kita merasa tidak tahu mau menulis apa, masalahnya jarang terletak pada ketiadaan bahan. Bahan siap tapi otak macet tidak mampu merangkai kata.

Pemicunya apa sih? Masalah sebenarnya adalah sensor internal di dalam kepala kita bekerja terlalu keras, sehingga muncul keraguan – raguan yang tidak perlu.

Setiap kali sebuah ide kecil muncul, si sensor langsung berteriak:
“Ah, itu terlalu klise.”
“Kalimatnya jelek sekali, hapus!”
“Orang tidak akan tertarik membaca ini.”

Akibat dari kendala yang kita ciptakan sendiri itulah ide-ide tersebut keburu mati sebelum sempat dilahirkan dalam bentuk tulisan.

Ketakutan akan tulisan yang buruk justru menjadi semen yang mengeraskan kebuntuan itu sendiri. Kita terjebak dalam paradoks: ingin menulis sesuatu yang hebat, tetapi tidak mau melewati proses menulis sesuatu yang payah terlebih dahulu.

Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika otak benar-benar mogok kerja? Salah satu cara paling jujur dan sering kali paling efektif adalah dengan menuliskan kebuntuan itu sendiri. Seperti tulisan yang sedang Anda baca ini.

Ketika kita tidak tahu harus menulis apa, tulislah tentang fakta bahwa kita sedang bingung. Toh ini tetap jadi karya juga, setidaknya duduk di depan laptop sampai mata perih tidak sia – sia.

Tulis tentang bagaimana warna dinding di depan kita terasa membosankan.
Tulis tentang suara detak jam dinding atau kipas angin yang mendadak terdengar lebih keras saat kita terdiam sambil menghembuskan asap rokok.

Tulis kekesalan kita pada kursor yang terus berkedip tanpa henti bikin mata ngantuk.

Dengan melakukan ini, kita sedang menurunkan ekspektasi yang terlalu tinggi dan meruntuhkan dinding sensor internal tadi.

Biarkan jari-jari kita menari tanpa beban moral bahwa tulisan ini harus memenangkan penghargaan sastra. Ini adalah bentuk katarsis, sebuah pemanasan mesin bagi otak yang sedang dingin.

Pada akhirnya, macetnya ide atau writer’s block bukanlah tanda bahwa kemampuan menulis seseorang telah habis.

Itu hanyalah tanda bahwa otak sedang meminta jeda, atau mungkin, sedang meminta kita untuk berhenti bersikap terlalu keras pada diri sendiri.

Menulis adalah sebuah proses, dan menjadi buntu adalah bagian sah dari proses tersebut. Jadi, jika hari ini otak kita sedang buntu, terima saja.

Dalam kondisi seperti ini jangan dipaksa untuk melahirkan mahakarya. Tumpahkan saja semua kekesalan dan kebingungan itu ke dalam baris-baris kalimat berantakan.

Karena sering kali di balik tumpukan tulisan yang berantakan itulah, ide yang segar sedang bersembunyi, menunggu untuk ditemukan kembali saat kepala sudah kembali tenang. Selamat menulis. ( * )

Penulis: Samsiar Komar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *