Pria Ini Lalap Daun Ganja Pakai Sambel, Seperti Apa Rasanya?

HEADLINE, HUKRIM2648 Dilihat

BANGKA BARAT — Ada – ada saja ulah Riko Sopandali, pria asal Desa Air Putih, RT 001, RW 001, Kecamatan Mentok. Selain menanam 20 batang tanaman ganja, dia bahkan melalap daunnya dengan sambel seperti lalapan biasa.

Menurut dia, berawal dari rasa penasaran, dia pun mencoba mengkonsumsi ganja dengan cara lain, salah satunya dilalap pakai sambel.

Daun ganja yang ia gunakan untuk bereksperimen merupakan hasil tanam sendiri di kebun milik orang tuanya di Dusun 1, Desa Air Putih, Kecamatan Mentok.

“Ganja itu kan rempah – rempah, jadi pengen coba, dicampur dengan mie dan dilalap pakai sambel. Rasa dilalap biasa – biasa saja, tidak membuat mabuk atau fly. Memang lebih enak dengan cara dibakar,” ujar Riko saat konferensi pers di Gedung Catur Prasetya Mako Polres Bangka Barat, Senin ( 25/9/2023 ).

Setelah itu dia pun bereksperimen lagi. Daun ganja tersebut ia olah menjadi kripik, digoreng pakai tepung seperti olahan bayam dan ia konsumsi sendiri.

“Rasanya kayak kripik bayam itu lah. Tapi abis makan itu mata rasanya sendu – sendu,” ujarnya.

Pria usia 27 tahun ini berurusan dengan Sat Resnarkoba Polres Bangka Barat dan diamankan pada Selasa ( 19/9/2023 ) karena kedapatan menanam ganja di lahan milik orang tuanya. Menurut dia, biji bibit ganja ia dapatkan dari Palembang secara gratis.

Ide ingin menanam ganja muncul setelah dia browsing di internet cara menanam ganja. Setelah itu Riko pun mencoba menanam tumbuhan tersebut. Pertimbangannya bila menanam sendiri ia tidak perlu pusing – pusing membeli ganja yang menurut dia harganya mahal.

“Awalnya belajar dari internet, sudah itu dapat bijinya bawa dari Palembang dapat 20 batang. Perawatannya selama dua bulan, lumayan subur. Itu buat saya konsumsi sendiri,” kata Riko.

Menurut Riko ia menanam ganjanya di lahan kosong disamarkan dengan semak – semak. Luas lahannya 1,5 hektare. Tapi area penanaman ganjanya hanya sekitar 10 meteran.

Tidak hanya sekedar ditanam begitu saja, ia juga datang ke kebunnya dua hari sekali untuk merawat tanaman tersebut, termasuk memberinya pupuk.

“Kalau berhasil tidak saya jual, untuk konsumsi pribadi saja, tapi belum panen. Saya sudah makai ganja sekitar dua tahun. Tahu lah risikonya, tapi mau beli kan mahal,” imbuhnya. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *