Pantai Tanjung Putat Belinyu, Masjid Terapung Menjadi Daya Tarik

HEADLINE, PARIWISATA440 Dilihat

BANGKA — Pantai Tanjung Putat yang terletak di wilayah Kelurahan Mantung, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, belakangan ini menjadi destinasi wisata baru yang cukup ramai dikunjungi wisatawan.

Fitri (38), warga Kelurahan Air Asem, Kecamatan Belinyu mengungkapkan, daya tarik utama pantai Tanjung Putat adalah sebuah masjid terapung dan adanya live music.

“Daya tariknya mungkin masjid terapung itu, dan ada musiknya juga,” ungkap Fitri di lapak dagangannya di Tanjung Putat, Kamis (14/9/2023 ).

Daya tarik pantai Tanjung Putat yang berada di ujung utara Pulau Bangka itu, tepatnya di kawasan industri Kecamatan Belinyu, tidak terlepas dari sentuhan tangan dingin sang pemilik, Rahardja Pantja atau Bos Afuk, demikian warga Belinyu menyapanya.

Kepada KABARBANGKA.COM dari CYBER MEDIA GROUP, Bos Afuk mengungkapkan history dibangunnya Tanjung Putat menjadi destinasi wisata untuk menghibur masyarakat.


“Masyarakat kita butuh hiburan, butuh tempat santai yang bersih, aman dan nyaman. Jadi saya bersama beberapa pasukan (pekerja) mulai membangun dan menata Tanjung Putat ini, sehingga menjadi tujuan wisata baru untuk masyarakat,” ungkap dia mengawali bincang dengan redaksi media ini.

Bos Afuk menuturkan, pengunjung yang berwisata ke Pantai Tanjung Putat bukan hanya warga sekitar Kecamatan Belinyu saja, tapi ada yang dari Mentok (Bangka Barat), dari Koba (Bangka Tengah), Kota Pangkalpinang, hingga masyarakat dari Toboali (Bangka Selatan).

“Pasukan saya yang kerja di sini ada 20 orang. Mereka lah yang menjaga dan merawat tempat ini, makanya selalu aman dan bersih terus. Hasil yang dipungut dari sewa lapak pedagang dan parkir dari pengunjung, itu semuanya untuk mereka. Saya tidak mengambil satu rupiah pun, tapi yang penting mereka bisa punya pekerjaan dan ada penghasilan,” beber dia.

Sayangnya, pengusaha low profile itu enggan menyebutkan jumlah investasi yang sudah dikucurkan untuk membangun Pantai Tanjung Putat.

Namun Bos Afuk mengakui motivasi awal dirinya ingin membangun masjid terapung, itu ketika salah satu anak buahnya pergi ke Kota Palu, Sulawesi Tengah sebelum gempa dan likuifaksi memporak-porandakan kota itu tahun 2018 lalu.

Sebelum diluluh-lantakkan oleh gempa dan likuifaksi, sebuah masjid terapung menjadi daya tarik wisata yang ada di Teluk Palu.

“Sebelumnya ada anak buah saya yang berangkat ke sana (Kota Palu), dan melihat langsung bagaimana masjid terapung di sana. Dan lagi, ada empat saudara saya yang muallaf (masuk Islam). Jadi dari situlah motivasi awalnya, sehingga terbangun masjid terapung ini,” cerita dia.

Masih terkait masyarakat butuh hiburan, Bos Afuk dibantu Ade Chandra bersama beberapa timnya, kini sedang menyiapkan peralatan untuk live music.

Berbagai alat musik berkualitas, hingga sebuah layar videotron juga dipasang di sebuah panggung di tepian Pantai Tanjung Putat.

“Nanti setiap malam Kamis dan malam Minggu ada hiburan live music sampai jam 10 atau jam 11 malam, pengunjung juga bisa karaoke. Itu kita pasang layar videotron untuk yang mau karaoke, supaya mudah,” kata dia.

Berkah Bagi Pedagang

Fitri, salah satu dari belasan pedagang yang menyediakan aneka minuman dan makanan bagi pengunjung Pantai Tanjung Putat.

Minuman yang dijual Fitri antara lain es jeruk, es teh, soda susu, kopi susu, extra joss susu, kelapa muda dan lain-lain.

Sementara makanan yang dijualnya ada sate madura, soto ayam, pecel lele, jagung bakar, indomie dan lain-lain.

“Berjualan di sini sejak satu minggu sebelum puasa kemarin,” ungkap dia.

Fitri menuturkan, Pantai Tanjung Putat ramai dikunjungi saat libur sekolah, saat weekend pada hari Sabtu malam Minggu atau hari Minggu sore.

“Omzetnya sehari bisa Rp3 juta. Saat ramai pengunjung bisa mencapai Rp4 juta per harinya. Keuntungannya sekitar 50 % dari omzet. Sebulan keuntungan bersih bisa mencapai Rp5 juta atau lebih,” tutur dia.

Fitri membenarkan semua aset dan properti di Pantai Tanjung Putat ini milik Bos Afuk. Kecuali barang pribadi pedagang seperti etalase dan perabotan makan minum.

“Kami bayar sewa sebulan Rp500.000, itu sudah termasuk air dan listrik, juga kebersihan dan keamanan,” jelas dia.

Fitri mengaku belum pernah mendapat pelatihan atau bantuan apapun dari pemerintah. Dia berharap pemerintah juga memperhatikan pedagang kecil seperti mereka.

“Kami juga mau kalau dilatih dan diberi bimbingan supaya bisa maju. Mohon pemerintah memperhatikan pedagang kecil seperti kami ini,” harap dia. (Romlan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *