BANGKA BARAT — Sekretaris Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an ( LPTQ ) Bangka Barat Juandi mengakui, meskipun menjadi tuan rumah, kafilah Bumi Sejiran Setason belum tampil maksimal di ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits ( MTQH ) ke – XIV Provinsi Bangka Belitung 2025.
Ada beberapa cabang, di antaranya kaligrafi, karya tulis ilmiah Qur’an ( KTIQ ) yang masih perlu banyak pembinaan. Sementara di cabang tafsir orangnya masih terbatas.
“Kemudian juga untuk cabang syarhil dan fahmil, nah itu yang memang harus banyak pembinaan. Kalau yang tilawah ya mungkin rata-rata ini standar lah,” kata Juandi saat ditemui di acara City Tour Kafilah MTQH 2025 di Pantai Tanjung Kalian, Kecamatan Mentok, Selasa ( 11/11 ) siang.
Untuk cabang hifzhil Qur’an menurut dia sudah cukup bagus. Tapi cabang yang menjadi andalan Bangka Barat hanya tahfiz Qur’an dan tafsir bahasa Indonesia.
Karena itu pihaknya tidak mengejar target juara. Sebagai tuan rumah perhatian lebih tertuju untuk mensukseskan kegiatan walaupun dengan anggaran yang tidak besar.
Tapi Juandi tetap berharap di MTQH ke XIV ini prestasi kafilah Bangka Barat mengalami peningkatan.
“Sebelumnya kita di peringkat 6, mudah-mudahan tahun ini bisa peringkat 5 atau setidaknya ke-4,” harap dia.
Untuk evaluasi ke depan, pihaknya menilai dari sisi pembinaan kafilah memang harus dilakukan secara intens.
Seperti misalnya melalui pondok – pondok pesantren atau lembaga – lembaga yang memang bisa menjangkau peserta-peserta yang sebenarnya asal Bangka Barat, tapi masih berada di luar daerah.
“Nah itu kita belum bisa mampu menarik mereka untuk kembali ke daerahnya,” kata Juandi.
Dari sisi anggaran, dukungan pemerintah daerah menurut dia sudah baik. Tapi karena menjadi tuan rumah, seharusnya anggaran yang dikucurkan lebih besar karena memang membutuhkan banyak biaya.
“LPTQ bukan hanya sebagai penyelenggara, tapi juga harus melakukan pembinaan dan pengiriman peserta, sehingga anggaran yang digunakan harus terbagi – bagi,” ucap Juandi.
Pemerintah Provinsi Bangka Belitung memang ikut membantu anggaran, tapi kata dia anggaran itu digunakan untuk pelaksanaan event, bukan fasilitasnya.
“Jadi untuk misalnya Dewan Hakim, untuk pembelian tropi, hadiah untuk peserta, penginapan dan lain-lain. Jadi memang anggarannya ada dari provinsi, tapi itu memang khusus untuk pelaksanaan di kegiatannya,” terang Juandi.
“Sementara dana kita ini, lebih banyak memfasilitasinya, seperti sarana – prasarana supaya terlaksanakan dengan sukses, kayak venue-venue dan segala macam itu,” tutup dia.
Namun secara umum dia melihat pelaksanaan MTQH tingkat provinsi di Bangka Barat berjalan sukses dan lancar, walaupun masih terdapat kekurangan dan kendala.
“Tapi sampai sejauh ini dari kafilah, kafilah sebagai tamu-tamu kita itu tidak ada complain. Misalnya merasa tidak terlayani atau segala macam. Alhamdulillah semuanya bisa berjalan lancar,” ujarnya. ( SK )
MTQH Babel, Kafilah Bangka Barat Belum Tampil Maksimal Tidak Kejar Target Juara






























