Meski Sedikit Menurun, Angka Stunting di Beberapa Desa di Bangka Barat Masih Tinggi

Muntok — Jumlah anak – anak stunting di Bangka Barat tahun 2021 sebanyak 1.555 balita atau 11.04%, menurun sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2020 yang masih di angka 12,4%.

Untuk diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak, yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Bangka Barat, Nurmala Anggraini mengatakan, pihaknya mengeluarkan data tersebut setiap tahun pada bulan Februari dan Agustus, disaat anak – anak datang ke Posyandu.

” Untuk balitanya sebenarnya sasaran kita itu ada 15.611 balita, tetapi yang datang ( ke Posyandu ) semasa pandemi ini hanya 12.518 dan yang dinyatakan stunting 1.555 atau 11,04%. Turun memang tapi nggak banyak turunnya,” jelas Nurmala Anggraini diruang kerjanya, Rabu ( 24/3 ).

Menurut Nurmala, sebenarnya angka 11.04% itu sudah dibawah target, dimana dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional ( RPJMN ), angkat standard-nya sebesar 14%. Namun sayangnya, masih ada desa – desa di Bangka Barat yang angka stuntingnya diatas 20%.

” Tapi kalau kita lihat per desa, memang ada desa di wilayah Kecamatan Simpang Teritip masih diatas 20%, diatas standard. Kita kan di RPJMN itu di angka 14%. Ada beberapa desa diatas angka 20, seperti Desa Ibul, Air Nyatoh, Kundi, Tugang sama Pangkal Beras,” tukas dia.

Dijelaskannya, ada beberapa faktor penyebab tingginya angka stunting, diantaranya pernikahan dini atau dibawah umur dan buruknya sanitasi. Menurut Nurmala, pihaknya mempunyai data anak – anak stunting, lengkap dengan nama dan alamatnya. Data tersebut berupa kartu yang dipegang tiap keluarga yang anaknya stunting.

” Jadi semua anak stunting di wilayah Bangka Barat kita punya satu kartu khusus, misalnya Si A punya data. Dari data itu ada indikator – indikatornya mulai dari pekerjaan orang tua, dan rata – rata pernikahan dini jadi penyebab. Karena di Simpang Teritip khususnya Air Nyatoh kemarin itu kami lihat dan baca data – data anak stunting itu, rata – rata ibunya menikah dibawah usia 17 tahun.
Kemudian juga sanitasi yang buruk, jambannya masih rendah,” tukas Nurmala. ( SK ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: