Menurunnya Daya Beli Masyarakat Babel: Alarm bagi Pemerintah dan Kita Semua

HEADLINE748 Dilihat

Penulis: Karin – Program Studi Manajemen, Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Kunjungan Wakil Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hellyana ke Pasar Kite Sungailiat beberapa waktu lalu menyampaikan pesan penting tentang kondisi ekonomi masyarakat saat ini.

Meskipun harga bahan pokok relatif stabil dan pasokan lokal cukup tersedia, daya beli masyarakat justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Ini bukan sekadar masalah pasar, melainkan gejala dari melemahnya kekuatan ekonomi rakyat yang harus segera ditanggapi secara serius.

Stabilitas harga memang menjadi indikator penting dalam pengendalian inflasi, namun tidak cukup untuk menandakan kesejahteraan masyarakat.

Ketika pendapatan masyarakat menurun dan kebutuhan hidup tetap atau bahkan meningkat, maka daya beli secara otomatis akan tergerus.

Dalam konteks Bangka Belitung, penurunan daya beli ini menunjukkan bahwa perekonomian daerah belum pulih secara menyeluruh pasca pandemi dan tekanan global.

Selain itu, kondisi pasar tradisional yang kurang memadai, seperti yang ditemukan di Pasar Kite Sungailiat, menambah beban para pelaku usaha kecil.

Pasar yang sempit dan fasilitas yang terbatas membuat proses jual beli menjadi tidak optimal. Hal ini berdampak tidak hanya pada kenyamanan konsumen, tetapi juga pada kelancaran distribusi barang dan penghasilan pedagang.

Sebagai mahasiswa, kami memandang pentingnya intervensi konkret dari pemerintah daerah maupun pusat.

Program seperti makan gratis dan Koperasi Merah Putih dapat menjadi solusi jangka pendek yang membantu masyarakat.

Namun lebih dari itu, dibutuhkan strategi jangka panjang seperti penguatan sektor UMKM, pemberdayaan petani dan nelayan lokal, serta digitalisasi ekonomi rakyat untuk memperluas akses pasar.

Tak kalah penting, pemerintah daerah harus memperhatikan pembangunan infrastruktur pendukung ekonomi rakyat.

Pasar tradisional perlu direvitalisasi, sistem distribusi logistik harus diperbaiki, dan ruang bagi produk lokal harus diperluas, baik secara fisik maupun digital.

Menurut opini saya sebagai mahasiswa, penurunan daya beli masyarakat harus menjadi alarm bagi semua pihak. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil. Kita harus bersama-sama membangun sistem ekonomi yang inklusif, adil dan berkelanjutan.

Sebagai generasi muda, kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Sudah saatnya mahasiswa terlibat aktif dengan memberikan ide-ide solutif, ikut serta dalam program pengabdian masyarakat, serta menjadi mitra kritis dalam mendorong kebijakan publik yang lebih berpihak kepada rakyat. ( * )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *