Harga Pupuk Melonjak, Pendapatan Petani Menurun Drastis

Muntok — Tahun ini harga berbagai jenis pupuk di Bangka Barat mengalami kenaikan cukup signifikan, bahkan hingga 100 persen. Di Gudang Paulus, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Muntok, harga beberapa jenis pupuk sudah mencapai angka Rp840 ribu per karung.

Sakkian pemilik Gudang Paulus mengatakan, dirinya menjual pupuk NPK Wayang, NPK Mutiara dan NPK Kebomas serta Urea.

“Kalau Kebomas yang harga 3mg kami jual dengan harga Rp585.000, kalau Urea Rp500.000, kalau Mutiara harganya Rp830.000 dan Wayang Rp840.000,” jelas Sakkian saat ditemui di gudang sembakonya, Rabu ( 5/10/2022 ) siang.

Menurut dia harga pupuk dalam beberapa bulan ini masih naik turun dalam kisaran 5 sampai 10 ribu rupiah. Memang di tahun ini kata Sakkian, kenaikan harga pupuk cukup tinggi bila dibandingkan dengan tahun lalu. Contohnya untuk pupuk tertentu yang dulunya masih di kisaran 400 ribu, kini sudah melambung hingga 800 ribuan.

“Kira – kira naiknya sudah 100 persen lah. Kalau dulu misalnya 400 ribu sekarang sudah 800 ribu, seratus persen jadinya,” ungkapnya.

Menurut dia, pupuknya ia salurkan kepada para petani yang memesan. Stok di gudangnya pun terbatas, hanya sekitar 2 ton.

Dikatakan Sakkian, tingginya harga pupuk sangat mempengaruhi daya beli para petani. Bahkan mereka terpaksa mengurangi pemakaian pupuk hingga setengah dari biasanya.

“Yang biasanya beli 2 ton jadi 1 ton, yang biasanya 1 ton jadi setengah ton. Dikuranginya setengah sesuai dengan harganya. Harga tinggi ini sudah ada setahun lah meningkat 100 persen jadinya,” katanya.

Biaya yang dikeluarkan untuk pemupukan juga jadi membengkak. Dikatakan Sakkian, bila sebelumnya dana yang dikucurkan sebesar Rp20 juta, sekarang ini para petani harus merogoh kocek hingga Rp40 juta untuk sekali pemupukan.

Sakkian yang juga memiliki perkebunan karet ikut merasakan dampak tingginya harga pupuk, apalagi saat ini harga karet dan sawit sedang turun.

“Saya mupuk nggak full lagi, setengahnya saja. Karet turun sekarang, sawit turun. Karet terakhir ku jual hari ini Rp7.500 per kilo. Kalau sawit saya dengar 1.000-an lebih kalau nggak salah. Hari nih lah ku jual karet Rp7.500 sekilo, biasanya Rp10.200 atau Rp10.100, kan turun banyak. Termasuk rugi lah, untung tapi dak seberapa dak banyak lagi,” ungkapnya.

Dampak tingginya harga pupuk juga dirasakan Allani ( 54 ), petani asal Desa Penyampak Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat.

Menurut dia, harga pupuk KCL Rusia yang dulunya hanya sekitar Rp500.000 per karung, kini melambung hingga Rp850.000 per karung.

Allani mengatakan saat harga sawit masih Rp3.500 perkilogram, ia masih bisa membeli pupuk MOP sampai Rp19 juta. Namun sekarang ini sudah empat bulan tanaman sawitnya yang sedang produksi tidak ia pupuk.

“Ini tiga bulan jalan empat bulan belum dipupuk karena harga itu lah, saya kan ngambil sama bos itu karena harga sawit 3.500, jadi sekarang ini belum dipupuk yang produksi itu,” ujar Allani via telepon.

“Tapi kalau sawit perkembangan yang remaja itu saya kasih pupuk NPK DGW atau pupuk mutiara, per bungkusnya Rp20.000. Kalau per sak Rp450.000 kalau nggak salah,” sambungnya.

Menurut Allani, tingginya harga pupuk yang diperparah dengan turunnya harga sawit membuat pendapatannya menurun drastis. Bila sebelumnya ia bisa mengantongi kurang lebih 10 – 12 juta rupiah hasil dari 3 ton sawit, kini dengan harga TBS 1.500 – 1.600, uang yang ia dapat hanya kurang lebih 6 jutaan.

“Jadi nggak berimbang pupuk yang naik itu nggak bisa turun. Tapi kalau harga sawit turun harapannya pupuk turun. Yang jelas secara ekonomi kalau harga pupuk macam tu, kalah petani. Kendalanya di harga, sekarang harga sawit Rp1.650 perkilogram. Berubah terus kadang – kadang naik kadang turun. Dulu harga paling tingginya Rp3.500 perkilogram. Jauh turunnya 50 persen,” jelas dia. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *