PANGKALPINANG — Ada fenomena menarik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang menjadi perhatian Pj Gubernur Suganda Pandapotan Pasaribu. Hal itu adalah kerukunan etnis Melayu dan Tionghoa.
Menurut dia konflik dua etnis itu jarang ditemui di Babel. Bahkan kekompakan hubungan etnis Melayu dan Tionghoa telah dibuktikan pada saat pecahnya kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Berbeda dengan daerah lain, di Babel pada saat itu penduduk etnis Tionghoa benar – benar terlindungi.
“Bahkan sejarah Babel juga tidak pernah mencatat adanya kerusuhan rasial besar menimpa etnis Tionghoa karena hal ini tidak terlepas dari hubungan yang sudah lama terjalin antar etnis di Pulau Bangka dan Belitung,” ujar Suganda saat menghadiri pelantikan pengurus daerah Perhimpunan Indonesia Tionghoa Inti Kepulauan Babel, di Bangka City Hotel, Pangkalpinang, Minggu ( 11/6/2023 ).
“Fenomena menarik yang juga terjadi di Babel adalah etnis Tionghoa dan Melayu bersatu dalam melawan penjajah Belanda karena mereka sama-sama menderita pada saat itu,” imbuhnya.
Karena itu menurut Suganda tidak mengherankan jika muncul semboyan dalam bahasa Hakka, Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong, yang bermakna orang Tionghoa dan Melayu itu sama atau setara. Semboyan ini bukan hanya sekadar jargon, tetapi buah dari kehidupan bersama selama tiga ratus tahun lebih.
Kekhasan pembauran yang terjadi antara etnis Tionghoa dan Melayu di Bangka dan Belitung menurut dia merupakan suatu hal yang tidak dapat dilepaskan dari sejarah yang terjadi di dua pulau tersebut.
“Saya berharap Perhimpunan Inti bisa hadir bersama pemerintah sesuai dengan visinya yaitu menjadi organisasi yang maju, modern, bercitra internasional, berorientasi pada Kebangsaan Indonesia, menghargai hak asasi manusia, egaliter, pluralis, inklusif, demokratis, dan transparan,” harapnya.
PD Perhimpunan Inti Kepulauan Babel sendiri diketuai Hendy Suwandi. Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Umum Teddy Sugianto. Perhimpunan Inti dibentuk sejak tahun 1999 di Jakarta.
Pj Gubernur mengucapkan selamat kepada pengurus daerah yang dilantik. Kata Suganda Perhimpunan Inti merupakan organisasi sosial kemasyarakatan bersifat kebangsaan, bebas, mandiri, nirlaba dan non-partisan.
“Tentunya organisasi ini berperan aktif dalam dinamika proses pembangunan bangsa, antara lain penuntasan masalah Tionghoa di Indonesia, menuju terwujudnya bangsa Indonesia yang kokoh, rukun bersatu dalam keharmonisan, bhinneka, saling menghargai dan saling percaya,” ungkapnya.
Suganda juga berharap pengurus yang dilantik dapat melaksanakan program – program kerjanya dengan penuh profesionalisme dan dedikasi tinggi, dalam rangka memajukan organisasi, daerah, bangsa dan negara khususnya Kepulauan Babel.
Diharapkan dengan adanya pengurus Inti, maka bisa berkontribusi yang positif di masyarakat.
“Jadi tidak boleh lagi ada pembedaan – pembedaan ini Tionghoa ini Melayu, kehadiran pengurus inti yang sudah dilantik hari ini mudah-mudahan dapat membantu pembangunan yang ada di provinsi Bangka Belitung agar lebih bagus lagi,” cetus Suganda.
Sebab, semua masyarakat kata dia bisa terlibat dan berpartisipasi untuk membangun masyarakat di Bangka Belitung.
“Diawali dengan kegiatan bansos katarak, yang menjadi salah satu bukti kehadiran Inti dan mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi, tidak hanya katarak mungkin bisa terkait dengan stunting, juga bisa ikut terkait dengan penanganan kemiskinan,” tutup Suganda. ( Red )
Sumber: Diskominfo Pemprov Babel.
Pj Gubernur: Etnis Melayu dan Tionghoa di Babel Rukun dan Kompak






























