4 Remaja Tersesat di Bukit Maras Masih Dicari Tim SAR

HEADLINE, Peristiwa62 Dilihat

BANGKA — Empat remaja dikabarkan hilang di kawasan Bukit Maras, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Minggu ( 29/6 ).

Keempat korban diketahui bernama Boma (17), Nabil (16), Keanu (17) dan Aufa (16).

Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Pangkalpinang menggelar operasi SAR darurat menyusul laporan kejadian tersebut dan melakukan penyisiran malam.

Kronologi kejadian bermula pada Minggu pagi sekitar pukul 10.00 WIB, saat keempat remaja tersebut mendaki dengan tujuan wisata ke Air Terjun Maruyan.

Di tengah perjalanan, mereka mengalami disorientasi medan dan kehilangan arah. Menjelang sore hari, para korban sempat berinisiatif mencari jalan keluar dengan bergerak mengikuti aliran arus sungai di sekitar lokasi.

Namun, karena kondisi fisik yang semakin kelelahan dan tak kunjung menemukan jalan keluar, salah satu korban, Puma, melaporkan kejadian tersebut ke Basarnas untuk meminta bantuan evakuasi.

Merespon laporan tersebut, tim diberangkatkan pada pukul 20.56 WIB menuju titik lokasi kejadian yang berjarak sekitar 72 kilometer.

Setibanya di posko SAR gabungan di kaki Bukit Maras menjelang tengah malam, tim langsung menggelar briefing kilat guna mematangkan strategi pergerakan.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Pangkalpinang, Mikel Rachman Junika, menegaskan, pergerakan operasi malam ini melibatkan sinergi dari berbagai unsur, yang terdiri dari empat personel Rescuer Kansar Pangkalpinang, BABINSA, Babinkamtibmas, personel BKSDA, BPBD Bangka, anggota Saka SAR, dan Tim Pengelola Bukit Maras.

“Para rescuer saat ini sudah berada di posko lapangan dan selesai melaksanakan koordinasi serta briefing taktis dengan seluruh unsur gabungan,” kata Midia, Minggu malam.

“Mengingat para korban sempat berinisiatif mengikuti aliran arus sungai, para rescuer akan memprioritaskan penyisiran di sepanjang jalur vegetasi sungai tersebut,” ungkap dia.

Dalam pelaksanaan operasi ini, cuaca dilaporkan berawan dengan kecepatan angin 5 knot ke arah timur. Faktor penghambat utama yang dihadapi oleh tim di lapangan adalah masalah visibilitas atau jarak pandang yang sangat terbatas di malam hari.

Guna menyiasati hambatan tersebut, operasi ini didukung oleh berbagai peralatan taktis, termasuk penggunaan drone thermal untuk mendeteksi panas tubuh korban dari udara, koneksi internet satelit Starlink, alat komunikasi mumpuni, peralatan mountaineering, serta kesiapan logistik medis darurat.

“Fokus dan target utama para rescuer malam ini adalah segera menemukan posisi keempat remaja tersebut dan memastikan mereka mendapatkan penanganan medis awal, mengingat kondisi mereka dilaporkan sudah sangat kelelahan,” tutup Mikel. ( * )


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *