Inflasi Maret 2025 Naik, BPS dan Pemkot Pangkalpinang Soroti Kenaikan Tarif Listrik dan Komoditas Pokok

ADVERTORIAL, HEADLINE442 Dilihat

PANGKALPINANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi bulan Maret 2025 serta pertumbuhan ekonomi triwulan IV tahun 2024 dalam konferensi pers yang digelar di ruang rapat BPS Pangkalpinang, Selasa (8/4/2025).

Acara tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Mie Go.

Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri menyampaikan bahwa inflasi bulan ke bulan (m-to-m) pada Maret 2025 mencapai 1,78 persen, dengan IHK tercatat sebesar 105,91. Sementara itu, inflasi tahun ke tahun (y-on-y) tercatat 1,39 persen.



“Jika kita cermati, inflasi tahunan selama dua tahun terakhir menunjukkan penurunan yang konsisten. Titik terendah inflasi terjadi pada Februari 2025 dengan angka minus 0,34 persen,” ujar Dewi.

Ia menjelaskan, inflasi bulan Maret didorong oleh beberapa komoditas utama, seperti tarif listrik yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi sebesar 2,20 persen akibat berakhirnya masa diskon tarif. Disusul oleh ikan tenggiri dengan inflasi 18,83 persen (andil 0,08%), mie kering instan 12,4 persen (andil 0,07%), serta kopi bubuk dan sigaret kretek mesin yang juga memberi kontribusi signifikan.

Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami deflasi, antara lain angkutan udara (-0,017%), bayam (-0,08%), kangkung (-0,05%), cabai merah (-0,07%), beras (-0,39%), dan ikan kerisi (-0,07%).

Terkait pertumbuhan ekonomi, Dewi memaparkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pangkalpinang triwulan IV tahun 2024.



Berdasarkan berita resmi statistik No. 04/04/1971/Th.XI, tercatat pertumbuhan ekonomi secara quarter-to-quarter (q-to-q) sebesar 6,40 persen, year-on-year (y-on-y) -0,47 persen, dan secara c-to-c -2,30 persen. PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp 2.787,93 miliar, sedangkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 5.040,74 miliar.

“Klasifikasi PDRB berdasarkan lapangan usaha menunjukkan bahwa sektor primer mencakup pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor sekunder meliputi industri pengolahan, listrik dan gas, air bersih dan konstruksi, sedangkan sektor tersier terdiri dari perdagangan, transportasi, akomodasi, dan jasa lainnya,” jelasnya.

Menanggapi pemaparan tersebut, Sekda Kota Pangkalpinang, Mie Go, menyampaikan apresiasi kepada BPS atas konsistensinya dalam menyampaikan data yang menjadi rujukan penting bagi pemerintah daerah.

“Data BPS, baik itu per bulan, triwulan maupun tahunan, menjadi tolak ukur dan acuan dalam menentukan kebijakan serta langkah strategis Pemkot Pangkalpinang, terutama terkait pengendalian inflasi,” kata Mie Go.

Ia juga menekankan pentingnya efisiensi yang tidak semata-mata menjadi hambatan, melainkan justru mendorong kreativitas dalam upaya menumbuhkan perekonomian kota.

“Oleh karena itu, kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Mari bersama-sama kita dorong pertumbuhan ekonomi Kota Pangkalpinang,” tutupnya. ( Adv )



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *