30 Tahun Penjara Menanti Sarkawi, Pelaku Pembacokan di Desa Air Kuang

BANGKA BARAT — Kapolres Bangka Barat, AKBP Fedriansah mengatakan, Muhammad Sarkawi ( 53 ), tersangka kasus pembacokan berdarah di Desa Air Kuang Kecamatan Jebus terancam hukuman kurang lebih diatas 30 tahun penjara.

Dijelaskan Fedriansah, terdapat dua Laporan Polisi ( LP ) pada kasus pembuhan yang tergolong sadis itu.

Pertama, LP/B – 91/III/2021/BABEL/RES BABAR/SEK JEBUS tanggal 14 Maret 2021, dengan korban bernama Bakar. Pelaku Sarkawi akan dikenakan Pasal 340 KUHP subs Pasal 338 KUHP dengan ancaman 20 tahun penjara.

Selanjutnya LP/B – 92/III/2021/BABEL/RES BABAR/SEK JEBUS tanggal 14 Maret 2021, korban Umiati dan Uci Febrianti. Ancamannya Pasal 44 Ayat 2 dan 3 Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2004 dengan ancaman 15 tahun penjara.

” LP yang pertama ancaman maksimal diatas 20 tahun karena dari awal ada persiapan dan pembunuhan terencana. Sedangkan yang kedua terkait KDRT, karena korbannya istri dan anak pelaku. Jadi secara kumulatif hukumannya diatas 30 tahun penjara,” jelas Fedriansah saat Konferensi Pers di Mako Polres Bangka Barat, Selasa ( 16/3 ) siang.

Kapolres memaparkan, saat Sarkawi melakukan pembunuhan terhadap Bakar ( 55 ), tetangganya dan istrinya sendiri, Umiati ( 51 ) pada Minggu ( 14/3 ) lalu, ia dalam keadaan sadar, sehat jasmani dan rohani serta tidak sedang dalam pengaruh alkohol atau minuman keras.

” Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan Polsek Jebus, pelaku dalam keadaan sadar tidak terpengaruh miras atau alkohol dan sehat jasmani dan rohani . Ini karena emosi yang tidak bisa dikendalikan, mungkin cemburu,” terangnya.

Bahkan menurut Fedriansah, pada hari kejadian pun tidak ada peristiwa luar biasa, seperti misalnya, pelaku melihat istrinya berduaan dengan Bakar, orang yang ia duga selingkuhan istrinya, atau pun hal – hal lain yang bisa memicu kemarahan Sarkawi hingga tega membacok kedua korban dengan sadis.

Sebab awal kejadian berdarah itu dimulai dari cekcok Sarkawi dan Umiati pada pagi hari sebelum pembacokan.

” Diawali dengan cekcok dengan istrinya namun ada beberapa kasus sebelumnya, dimana dia menduga istrinya berselingkuh dengan korban. Artinya itu menjadi puncak kemarahannya. Ini akumulasi kekesalan dia karena di pagi hari dia cekcok dengan istrinya. Mungkin muncul ingatan – ingatan masa lalunya dan menjadi luapan kekesalan membabi buta,” pungkas Fedriansah. ( SK )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pin It on Pinterest

%d blogger menyukai ini: