Belajar dari Irvan, Badut Parkir yang Melihat Peluang di Tengah Sempitnya Lapangan Kerja

FEATURES, HEADLINE1120 Dilihat

Alhamdulillah terima kasih Pak,” kalimat itu terucap dari bibir Irvan, pria usia 32 tahun saat menerima uang satu ribuan dari pengunjung Mini Market Sanjaya, di Jalan Jenderal Sudirman, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat.

Meskipun awalnya malu, pria asli Mentok ini akhirnya menepis perasaan itu jauh – jauh hingga menjadi terbiasa menjaga parkir dengan mengenakan kostum badut lucu dengan bagian kepala terlihat cukup berat, dan sudah tentu terasa gerah bila berlama – lama memakainya.

Tanpa sungkan dia berjoget – joget riang untuk menghibur pengunjung mini market, di sela kegiatannya menyusun dan merapikan sepeda motor yang parkir.

Berawal dari coba – coba, Irvan pun akhirnya memutuskan untuk serius menekuni profesi badut yang kurang diminati kebanyakan orang di kota kecil seperti Mentok ini.

Di tengah sempitnya lapangan pekerjaan, dia justru membaca peluang untuk menekuni topeng badut sebagai ladang pencahariannya.

“Ide jadi badut itu dari saya sendiri karena ini kan untuk mata pencaharian. Awalnya pernah lihat dari kawan juga jadi saya beli kostum coba-coba. Memang awalnya malu, tapi akhirnya terbiasa yang penting bisa mencari rezeki yang halal untuk menafkahi keluarga,” kata Irvan.

Berkat ketekunannya menjalani pekerjaan sebagai badut selama kurang lebih dua tahun, duda dengan tiga anak perempuan yang masih kecil – kecil ini pun berhasil mengumpulkan 15 kostum badut yang ia beli sendiri dari hasil jerih payahnya. Padahal harga satu kostum itu tidak murah.

“Ada 15 kostum beli di Jakarta sama Bandung. Satu kostum itu harganya 2 juta. Tapi alhamdulillah sudah pulang modal. Modalnya dari satu kostum akhirnya sampai menjadi 15,” tutur dia sembari tertawa.

Dengan modal kostum – kostum itu Irvan mendapatkan berbagai job lain di luar menjaga parkir, misalnya acara ulang tahun anak – anak, bahkan terkadang dia diundang pula pada acara – acara yang digelar Pemda Bangka Barat.

Job sampingan itu bagi dia sangat membantu menambah penghasilannya. 
Dari lahan parkir mini market Sanjaya rata – rata dia mendapatkan sekitar 300-an ribu rupiah yang dikumpulkan sejak pukul 16.00 hingga pukul 21.00 WIB. Walaupun dipotong setoran 60 persen kepada sang bos, uang yang ia bawa pulang masih cukup lumayan. 

“Pendapatan nggak tentu tapi paling biasanya 300.000. Kita kan hanya anak buah jadi setoran sama bos, tapi ini ada izin dari Pemda dan izin bupati juga. Dan bupati juga kalau ada konser kita dipanggil kalau ada acara di Lapangan Gelora, kita juga ikut diundang dipanggil,” tuturnya ramah.

Bagi Irvan mencari nafkah untuk ketiga anaknya bisa dilakukan dengan cara apa saja, selama uang yang ia dapat halal dan dirinya tidak meminta – minta. Dengan memakai kostum badut, ia merasa senang bisa menghibur orang, terutama anak – anak, walaupun ada juga sedikit dukanya, karena terkadang ada anak – anak yang takut melihatnya.

“Biar anak – anak nggak takut saya buka dulu yang di kepala biar mereka melihat wajah saya. Sesudah itu baru dipakai lagi. Intinya ingin menghibur orang lah, anak-anak, orang-orang yang kecapean atau ibu-ibu. Kami pun tidak memaksa tidak meminta-minta, diberikan seikhlasnya makasih ya kita ambil. Alhamdulillah anak-anak suka di Bangka Barat ini orang-orang sudah tahu semua dan sudah banyak konsumen,” ucap Irvan menutup obrolan. ( SK )

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *