BANGKA BARAT — Aktivitas pertambangan ilegal di kawasan daerah aliran sungai ( DAS ) Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat bikin resah para nelayan di Desa Air Nyatoh, Kecamatan Simpang Teritip.
Beberapa orang perwakilan nelayan dari Desa Air Nyatoh mendatangi Bupati Bangka Barat Markus guna menyampaikan keresahan itu, Jumat ( 16/10/2026 ) sore.
Asbaru alias Baba, salah seorang perwakilan nelayan mengatakan, limbah dari aktivitas tambang tersebut, terutama saat air laut pasang membuat hasil tangkapan dari bagan mereka jauh berkurang.
“Jadi memang selama ini kami benar-benar merasakan dampak dari aktivitas tersebut ketika air pasang bergantian dari surut ke pasang. Itu kami rasakan air itu keruh sekali sehingga penghasilan kami jauh berkurang dari sebelumnya,” kata Baba di ruang kerja bupati.
Menurut dia kondisi seperti ini sudah berlangsung selama satu bulan. Para penambang mulai beroperasi sejak sore bila air laut pasang.
Baba mengatakan, sebelum terdampak aktivitas tambang, mereka bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan teri dari bagan rata – rata sekitar 50 kilogram. Tapi setelah ada aktivitas tambang, hasil yang mereka dapatkan merosot hanya 10 kilogram saja.
“Kalau diuangkan kita sulit juga untuk mengatakannya karena per kilo itu kan kalau kami jual basah istilah ikan teri kami itu kan per kilonya itu 10.000 kan, jadi 50 kilo Rp500.000 ya, jadi sekarang kira-kira paling Rp100.000. Ongkos operasional bagan itu saja kami kadang-kadang nggak pulang,” terangnya.
Dia melanjutkan, saat ini untuk biaya operasional satu bagan dalam kondisi harga BBM naik seperti sekarang ini berkisar Rp200.000. Jadi bila hasil yang mereka dapat hanya Rp100.000 per hari, maka mereka masih tekor Rp100.000.
Selain itu menurut dia kondisi air keruh akibat tambang akan sulit kembali jernih atau normal. Hal ini membutuhkan waktu yang lama.
“Pasti sangat apa namanya memerlukan jangka waktu yang sangat lama untuk pemulihan kejernihan air laut tersebut,” imbuhnya.
Karena itu mereka berharap Bupati Markus bersama aparat penegak hukum untuk segera menghentikan aktivitas tambang di DAS Kampak Desa Jebus.
Dia tidak menampik sudah ada gejolak sosial dari keresahan para nelayan. Apalagi 80 persen masyarakat Desa Air Nyatoh bermata pencaharian sebagai nelayan.
“Jadi kalau gejolak seperti itu memang. Artinya kawan-kawan selalu bertanya dengan kita, nanti kita bersabar dulu lah karena kita ini kan ada hukum, ada aparat penegak hukum, ada pemerintahan, Pak Bupati dan sebagainya untuk mengatasi hal ini kan, artinya kita juga apa namanya meredam kawan-kawan,” kata Baba.
Menanggapi hal itu Bupati Bangka Barat Markus berjanji akan mengundang pihak terkait serta Forkopimda untuk mencari solusi. Hal ini bertujuan guna mengantisipasi gejolak sosial yang bisa saja terjadi bila dibiarkan berlarut – larut.
“Aspirasi ini diwakili oleh Bapak Baba (Asbaru) dan disampaikan kepada Bupati agar segera ditindaklanjuti.
Mereka mengeluhkan hasil tangkapan ikan yang menurun akibat penambangan,” kata Markus.
“Permasalahan ini akan dijadwalkan dan dibahas bersama Forkopimda serta perwakilan nelayan dalam sebuah rapat guna mengantisipasi terjadinya gejolak sosial,” imbuhnya. ( SK )






























